Kisah Sukses Mahasiswa UMM Ubah Perkampungan Kumuh Jadi Rio de Janeiro-nya Indonesia

Kisah Sukses Mahasiswa UMM Ubah Perkampungan Kumuh Jadi Rio de Janeiro-nya Indonesia

3731
4
BAGIKAN
Decofresh Warnai Jodipan (foto Humas UMM)
Decofresh Warnai Jodipan (foto Humas UMM)

PWMU.CO – Genteng, tembok, dan pagar perkampungan itu begitu mencolok. Warna-warni cat yang membalutnya membentuk sebuah mozaik keindahan. Jika memerhatikan sekilas, Anda akan menyangka jika itu ada di kawasan Kickstater, Rio de Janeiro, Brazil. Padahal, perkampungan itu ada di RT 06, 07, dan 09, RW 02, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur.

(Baca: Pendaftar Capai 10 Ribu Orang, Ini yang Perlu Disiapkan agar Diterima di UMM)

Adalah Nabila Firdausiyah, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bersama tujuh rekannya yang tergabung dalam kelompok Guys Pro Komunikasi UMM sebagai otak di balik semua kreativitas itu. Awalnya, Nabila, bersama Salis Fitria, Ira Yulia astutik, Dinni anggraeni, Wahyu Fitria, Elmy Nuraidah, Fahd Afdallah, dan Ahmad Wiratman, mendapat tugas praktikum Event Public Relations. Ide brillian muncul ketika mereka melihat kampung kumuh di pinggir Kali Jodipan.

Padahal, lokasi perkampungan itu sangat strategis. Berada di bawah jembatan yang menghubungkan Jalan Panglima Sudirman dan Jalan Gatot Subroto, tak jauh dari Stasiun Kereta Api Malang Kota. Nabila berpikir, kampung itu akan menjadi tempat yang menarik jika diberi sentuhan kreativitas. Maka Nabila dan kawan-kawannya memutar otak. Muncullah ide gerakan Jodipan Penuh Warna. Kampung kumuh itu harus disulap dengan aneka warna-warni cat. “Ini akan menjadi salah satu icon Kota Malang,” pikirnya.

(Baca juga: Mantan Rektor UMM Tersukses Ini Berbagi 5 Jurus Membesarkan Perguruan Tinggi)

Persoalan belum berhenti di situ. Nabila, ketua kelompok ini, harus berpikir keras untuk mencari sponsor. Tapi Gayung bersambut. Pihak PT Indana Paint sangat tertarik dengan proposal Guys Pro. Pemilik merk Decofresh ini siap menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk program ini. Maka dinamailah proyek yang menelan biaya tak kurang dari Rp 200 juta ini dengan sebutan “Decofresh Warnai Jodipan”.

Nabila Firdausiyah (jilbab merah) bersama 7 temannya dalam kelompok Gys Pro (foto Humas UMM)
Nabila Firdausiyah (duduk paling kiri) bersama 7 rekannya dalam kelompok Guys Pro Komunikasi UMM (foto Humas UMM)

Untuk menyuksekan ide ini, Nabila dan Salis harus rela menunda jadwal KKN. “Saya dan Salis rela menunda jadwal KKN untuk menunggui program ini agar terus berjalan. Masyarakat di sini juga welcome sekali, siap setiap saat membukakan pintu untuk kami. Ini luar biasa,” kata Nabila. Proyek ini sendiri diperkirakan memakan waktu dua bulan. Dan rencananya, Agustus baru selesai.

(Baca juga: Wanita Singapura Ini Raih Gelar Doktor Tercepat di UMM dan Kapolri Terima Tanda Keluarga Kehormatan UMM)

Di samping berniat membuat Malang punya ikon baru sebagai kota kreatif, Nabila dan kawan-kawan sebenarnya punya tujuan lain dari proyek ini. Mereka ingin mengubah perilaku masyarakat agar lebih disiplin dalam kebersihan. “Kampung kumuh ini diubah agar perilaku masyarakat berubah,” ujar Nabila.

Jamroji, M.Comm, dosen yang menjadi pembimbing praktikum, mengapresiasi kerja kelompok Guys Pro ini. “Banyak karya yang dilahirkan oleh kelompok kerja praktikum, tapi Jodipan yang paling fenomenal,” puji dia. Lulusan Edith Cowan University Australia ini mengaku memberi kebebasan mahasiswa untuk memilih klien dan program yang diinginkan. “Tetapi mereka harus berangkat dulu dari sebuah riset, presentasi proposal hingga eksekusi dan publikasi kegiatan secara matang.”

(Baca juga: Pertahankan Kampus Terunggul untuk Kali ke-9, UMM Fokus Hilirisasi Hasil Riset)

Salis Fitria, motor lainnya dalam kelompok Guys Pro, mengatakan bahwa kesuksesan proyek ini tak lepas dari partisipasi masyarakat setempat. “Kami menggandeng masyarakat setempat melalui Ketua RW dan RT untuk mengerahkan tukang dan teknisi. Selain itu kami juga didukung oleh Komunitas Mural Malang yang mendekorasi pagar dan tangga-tangga batu di dalam perkampungan,” ujarnya.

Salis menjelaskan bahwa di hari libur biasanya masyarakat ada yang membantu proses pengecatan ini. Bahkan mereka ikut menghiasi dinding rumahnya dengan lukisan-lukisan. Kini, kawasan Jodipan sudah berubah. Masyarakat lebih mencintai kebersihan dengan tidak membuang sampah ke sungai Brantas karena plengsengannya sudah dicat dan dibersihkan. “Mungkin itu yang membuat masyarakat jadi termotivasi untuk menjaga kebersihan kampungnya,” kata Salis saat mendampingi Nabila dalam wawancara dengan pwmu.co, Kamis (21/7) siang.

Tak hanya itu, setiap hari ratusan wisatawan berdatangan untuk melihat Kampung Jodipan lebih dekat. Bahkan banyak di antara mereka yang berfoto selfi dengan background Rio de Jeneiro-nya Indonesia itu. (Nasrul/MN)

4 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan