Beranda Mu-safir Pengalaman ke Los Angeles Disopiri dan Dipandu Profesor Berusia 80-an Tahun

Pengalaman ke Los Angeles Disopiri dan Dipandu Profesor Berusia 80-an Tahun

2
BAGIKAN
Prof Moore (enam dari kiri, baju putih bergaris) bersama peserta Summer Institute (foto Biyanto)
Prof Moore (enam dari kiri, baju putih bergaris) bersama peserta Summer Institute. Nampak juga Prof Clark (empat dari kanan). (foto Biyanto)

PWMU.CO – Bagian kedua program Summer Institute 2016 on Religious Pluralism adalah study tour di Los Angeles selama lima hari, 14-18 Juli. Selama di Los Angeles, saya menginap di Doubeltree by Hilton Hotel. Aneka kegiatan sudah disiapkan, sharing dengan komunitas Muslim di University of Southern California (USC), Shalat Jumat di The Vermon Avenue Mosque, berkunjung ke sejumlah gereja, dan berwisata di kompleks Griffith Observatory. Kompleks wisata ini sangat ramai. Banyak pengunjung yang ingin mengambil foto dengan latar pemandangan pegunungan dengan tulisan Hollywood.

(Baca: Ternyata Isu Terorisme Tak Pengaruhi Laju Populasi Muslim di Barat dan Spiritualisme Yes, Beragama No: Tantangan Baru Kaum Agamawan)

Yang menarik, dalam rangkaian kegiatan salah satu guide sekaligus sopir mobil minibus yang saya tumpangi adalah Prof Moore, Direktur Program Summer Institute 2016 (sopir dan guide lainnya adalah Prof Clark, yang juga berusia 80-an). Jiwa melayani perempuan berusia 80 tahun lebih ini luar biasa. Ia yang menjemput dan menunggu saya dan peserta Muslim lain untuk Shalat Idul Fitri beberapa hari lalu. Ia juga pernah mengantar dan menunggu kami untuk Shalat Jumat.

Dalam perjalanan menuju Los Angeles, saya sempat bertanya tentang kebiasaan berkendara sendiri. Menurutnya, melayani diri sendiri, termasuk menyetir kendaraan, merupakan budaya yang umum di Amerika. Bahkan bisa jadi hal itu juga terjadi di Barat. Selain agar tidak bergantung pada orang lain, melayani diri sendiri bisa membuat badan menjadi sehat. Dengan menyetir kendaraan sendiri, semua syaraf tubuh bekerja. Demikian penegasan Prof Moore.

Apa yang dikatakan Prof Moore benar adanya. Saat merayakan ifthar (berbuka puasa) bersama keluarga lokal di Santa Barbara, saya juga memiliki pengalaman serupa. Saat itu keluarga Allan dan istri menyiapkan sendiri semua kebutuhan. Tidak ada pembantu di rumah itu. Padahal Allan sudah berusia lanjut (72 tahun). Istri Allan juga sudah nenek-nenek. Semua anaknya sudah bekerja dan tinggal di rumah masing-masing. Baca: Tergolong Mampu, Keluarga Manula Ini Pilih Mandiri tanpa Pembantu.

Bagi saya, selain pengalaman pertukaran budaya, pelajaran lain dari kegiatan Summer Institute ini adalah soal kemandirian. Umumnya, keluarga di Barat, termasuk Amerika, yang sudah berusia renta sekalipun tidak mau merepotkan orang lain. Keluarga Prof Moore dan Allan merupakan sebagian contoh. Saat buka puasa bersama, Allan sendiri yang menjemput dan mengantar balik kami.

Senada dengan Prof Moore, Allan juga menegaskan bahwa dengan menyetir sendiri, semua syaraf di tubuhnya bekerja. Sebagai pengacara, yang menuntut mobilitas tinggi juga dijalani Allan tanpa sopir. Istrinya juga mengerjakan pekerjaan rumah tanpa pembantu. Saya benar-benar dapat pelajaran soal kemandirian dari Prof Moore dan keluarga Allan. Coba bandingkan dengan pemimpin kita. Sebagian mereka begitu menikmati, bahkan menuntut pelayanan. Padahal dengan melayani diri sendiri, badan menjadi sehat dan bugar. (*)

Dr Biyanto di DoubleTree HiltonLaporan Dr Biyanto MAg, peserta Summer Institute UCSB, Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

2 KOMENTAR

  1. Membaca cerita P. Biyanto ttg Prof perempuan usia 80 th demikian bagus melayani tamu, mennggu krn jamaah muslim salat jumat, setir sendiri, sungguh menyentuh hati.
    Sikap mandirinya membuat sy malu pada diri sendiri

  2. Setiap tulisan Bpk Biyanto selalu saya baca, enak dan menarik…itulah ciri tokoh muhammadiyah….santun, sederhana, energik dan menghargai pendapat orang lain dan kalau diundang cukup WA atau SMS

Tinggalkan Balasan