Spiritualisme Yes, Beragama No: Tantangan Baru Kaum Agamawan

Spiritualisme Yes, Beragama No: Tantangan Baru Kaum Agamawan

512
0
BAGIKAN
Penulis saat mempresentasikan makalah pada diskusi penel Summer Institute 2016 UCSB (foto dok pribadi)
Penulis saat mempresentasikan makalah pada diskusi penel Summer Institute 2016 UCSB (foto dok pribadi)

PWMU.CO – Tantangan yang kini dihadapi agama-agama resmi di Barat, termasuk Amerika, adalah meningkatnya pengikut spiritualisme. Demikian salah satu tema yang dibahas dalam diskusi panel Summer Institute 2016The University of California, Santa Barbara (UCSB), 12-13 Juli awal pekan ini.

(Baca: Cerita Din Syamsuddin Tentang Agama Setan dan Ritual Seks dan Ternyata Isu Terorisme Tak Pengaruhi Laju Populasi Muslim di Barat)

Jumlah pemeluk Protestan sebagai agama mayoritas di Amerika terus menurun. Data The National Opinion Research Center University of Chicago memaparkan fenomena tersebut. Pada 1950, populasi Protestan di Amerika mencapai 2/3 dari total jumlah penduduk. Sementara pada Juli 2004, jumlah populasi Protestan tinggal 50 persen.

Hasil poling Gallup (2000) menyatakan, pada 1937 sebanyak 73 persen warga Amerika menjadi anggota gereja. Jumlah itu terus menurun menjadi 70 persen (1960-1970) dan 60 persen (2000). Kondisi ini tentu mengagetkan karena sejarah Amerika tidak bisa dipisahkan dari Kristen (Christianity). Bahkan pada awal kemerdekaan dikatakan bahwa Amerika merupakan negara Kristen.

(Baca juga: 4 Tantangan Keberagamaan Era Kontemporer dan Din Syamsuddin: Liberalisasi, Tantangan Muhammadiyah Hari Ini)

Data yang juga menarik adalah menurunnya kepercayaan publik Amerika terhadap peran agama dalam kehidupan. Menurut hasil poling A U.S. News and World Report pada 1994, dikatakan, 65 persen publik Amerika percaya bahwa agama kehilangan pengaruh dalam kehidupan sosial. Sebagai gantinya, publik Amerika mulai menengok ajaran-ajaran yang dikembangkan kelompok spiritualis. Karena itu tidak mengherankan jika dalam poling itu juga dipaparkan data sebanyak 62 persen publik Amerika percaya bahwa spiritualisme berpengaruh dalam kehidupan pribadi.

Berbagai kelompok spiritualis di Amerika pun terus mengembangkan apa yang disebut New Religious sebagai ekspresi spiritualisme. Ajaran ini mulai berkembang pesat di Amerika sejak 1990. Di antara kelompok spiritualisme yang berpengaruh di Amerika adalah Charles Manson Family (1965-1975), Jim Jones/Jonestown (1978), Branch Davidian (1993), Aum Sinrikyo (1995), dan Heaven’s Gate (1997).

(Baca juga: Agama Yahudi, Nasrani, dan Islam Bersumber dari Islam yang Dibawa Ibrahim dan Musik dan Agama antara Nasrani, Yahudi, dan Islam: Bagaimana Sikap Muhammadiyah?)

Paham spiritualisme ini digerakkan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang, seperti pemusik, olahragawan, profesional, dan ilmuwan. Umumnya ajaran spiritualisme ini menekankan pada dua hal. Yaitu, ajaran kultus individu (cult) dan gerakan antigereja. Ajaran ini mengajak penganutnya berbuat baik pada sesama dan lingkungan sekitar tanpa terikat ajaran agama tertentu. Sebagian kelompok spiritualisme juga berupaya untuk menghimpun ajaran etika dari semua agama. Jadi ada fenomena sinkretisasi ajaran agama-agama dalam spiritualisme.

Dalam pandangan kaum spiritualis, untuk menjadi baik seorang Kristiani tidak harus datang ke gereja setiap Minggu untuk beribadah. Itulah sebabnya agama Kristen di Amerika sangat waspada pada gerakan spiritualisme. Apalagi gerakan spiritualisme bisa menjelma menjadi radikal. Hal itu pernah ditunjukkan kelompok Davidian yang mengajak seluruh anggotanya bunuh diri.

(Baca juga: Konflik Antarumat Beragama Seringkali Diciptakan untuk Kepentingan Tertentu dan Ciri Islam Berkemajuan Itu Membuka Pintu Ilmu Pengetahuan dari Berbagai Penjuru Dunia)

Peningkatan jumlah pengikut spiritualisme ini patut diwaspadai, termasuk oleh umat Islam di Tanah Air. Sebab, banyak juga kelompok spiritualisme yang berkembang di Indonesia. Tengok saja kelompok Lia Eden dan gerakan spiritualitas lintas agama yang mulai tumbuh di kota-kota besar. Kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) pun, yang pernah menyita perhatian, bisa dimasukkan kelompok spiritualis ala Indonesia. Gafatar dan kelompok lain yang serupa tidak mau dimasukkan dalam agama-agama resmi.

Mereka memproklamasikan agama baru, Agama Abraham. Mereka juga tidak segan mengkritik agama-agama resmi, termasuk tokoh-tokohnya, karena hanya berwacana dan belum banyak berbuat. Kemunculan spiritualisme di Amerika dan Indonesia juga patut menjadi perhatian para mubaligh. Dengan demikian dakwah Islam, termasuk Muhammadiyah, harus menyentuh kelompok-kelompok spiritualis yang ada di tengah-tengah masyarakat. (*)

Laporan Dr Biyanto MAg, peserta Summer Institute UCSB, Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

TIDAK ADA KOMENTAR