Jamaah pun Semburat Berlarian Cari Aman Ketika Khutbah Masih Berlangsung

Jamaah pun Semburat Berlarian Cari Aman Ketika Khutbah Masih Berlangsung

1068
1
BAGIKAN
Jamaah shalat Idul Fitri 1437 H di halaman Pasar Baru Burneh, Bangkalan, Madura, yang penuh sesak (foto: busiri)
Jamaah shalat Idul Fitri 1437 H di halaman Pasar Baru Burneh, Bangkalan, Madura, yang penuh sesak (foto: busiri)

PWMU.CO – Dalam setiap penyelenggaraan acara yang mengambil tempat terbuka selalu terselip cerita. Mulai yang sedih, menyenangkan, hingga lucu, dan aneka ragam cerita lainnya. Tak terkecuali dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri 1437 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Burneh di halaman Pasar Baru Burneh, Bangkalan, Madura (6/7). Tidak hanya lucu, bahkan sempat membuat tegang.

Seusai mengimami shalat Idul Fitri, Rik Suhadi pun langsung naik mimbar untuk menyampaikan khutbah. Khutbah pun awalnya berjalan dengan tertib dan khidmah layaknya penyekenggaraan di tempat-tempat lainnya. Sekitar 10 menit kemudian, ketia Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bangkalan ini masih menyampaikan khutbah, tiba-tiba dari satu titik jamaah perempuan semburat berlarian. Mereka semburat meninggalkan tempat duduknya untuk “mencari selamat”.

(Baca: Dari 3 Model Bertetangga yang Baik Ini, Anda Masuk Mana? dan Kehidupan Akhirat Jangan Jadi Sambilan)

Pandangan ini sudah tentu menyita perhatian mata semua jamaah yang harus ikut menolehnya. Apalagi lokasi “keonaran” ini tepat berada di posisi tengah, dan lurus di depan mimbar. “Sejenak terjadi kepanikan, dan tentu saja pandangan seluruh jemaah tertuju ke TKP. Tetapi Ustadz Rik Suhadi tetap melanjutkan khutbahnya dengan tenang,” tulis salah satu jamaah, M. Busiri, kepada pwmu.co.

Awalnya, banyak yang curiga bahwa insiden itu terkait dengan kemunculan hewan liar, terutama ular. Yang mungkin saja muncul di tengah-tengah tempat kejadian perkara (TKP). Apalagi lokasi shalat memang di ruang terbuka, yang sangat memungkinkan adanya hewan liar yang sedang berkeliaran untuk menyambung hidup.

(Baca: Shalat Id Ini Menyatukan Jamaah dari Berbagai Kelompok Islam dan Memaknai Imsak dan Takjil dalam Kehidupan Sehari-hari di Luar Ramadhan)

Tetapi dugaan “ular” ini mentah. Setelah usut punya usut, penyebab keonaran itu adalah keberadaan selongsong mercon “sreeng” yang jatuh di tengah-tengah jamaah perempuan tadi. Lho, kok bisa? Apakah ada jamaah yang menyalakan mercon ketika khutbah masih berlangsung? Ternyata selongsong mercon yang sudah tidak aktif lagi berasal dari lokasi lain yang tidak terlalu jauh.

Hush, jangan berpikir macam-macam dengan adanya motif ini dan itu terkait keonaran ini. Hanya saja, secara kebetulan jamaah tetangga sebelah itu sahalatnya yang sudah selesai terlebih dahulu. Mungkin saja ada anak kecil yang langsung bermain dan menyalakan mercon seusai shalat. Namanya anak kecil, bisa jadi saat memegang mercon yang dinyalakan kurang kuat hingga melesat tanpa terkendali. Dan inilah yang menyasar ke jamaah di depan pasar baru Burneh tadi.

(Baca: Hanya 4 Takbir di Rakaat Pertama: Keunikan Shalat Id di Santa Barbara dan Shalat Idul Fitri “Berhadiah” Kaldu)

Untungnya, selain karena hanya selongsong mercon, yang artinya mercon sudah tidak aktif lagi, jamaah pun bisa kembali tertib dan fokus lagi ke khutbah yang disampaikan ustadz Rik Suhadi. Jamaah kembali fokus ke ibadah tanpa menyisakan “gremeng-gremeng”, sesuatu yang biasanya akrab dalam dunia ibu-ibu. Ditambah lagi materi khutbah yang menarik, dan juga penyampaian dari khatib yang luar biasa, semua rangkaian shalat Idul Fitri pun terselesaikan tanpa gangguan yang berarti.

Hmmm…. Ada-ada saja. Sebaiknya kalau menyalakan mercon, menunggu semuanya selesai dulu. Atau lebih baik lagi, bukankah tidak usah main mercon? (sri tarwiyati)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

  1. Waktu y a d mudah2 an tidak kejadian lagi. Kalo dilihat tempatnya keamanan dilapangan harus lebih ekstra, karena ditempat yang terbuka dibandingkan dimasjid.
    Dan pada waktu pelaksanaan dimasa yang akan datang perlu ada pengamanan dari KOKAM, bukan hanya dijalan dan diluar lapangan, tapi juga harus berjaga- jaga KOKAM dilapangan tempat lapangan tempat ibadah sholat Idul Fitri.
    Mudah2 an ini bukan motif lain, tapi seorang anak yang tidak tahu memainkan petasan.