Memaknai Imsak dan Takjil dalam Kehidupan Sehari-hari di Luar Ramadhan

Memaknai Imsak dan Takjil dalam Kehidupan Sehari-hari di Luar Ramadhan

266
0
BAGIKAN
Jamaah sedang bersiap shalat Idul Fitri di Perguruan Muhammadiyah Sidoarjo (foto istimewa)
Jamaah sedang bersiap shalat Idul Fitri di Perguruan Muhammadiyah Sidoarjo (foto istimewa)

PWMU.CO – Puasa Ramadhan merupakan masa kontemplasi untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Puasa adalah mengabaikan kehidupan lahiriah, menekan keinginan jasadi, dan melatih kepekaan batin dan memanjakan ruhani. Itu semua seharusnya menjadikan hidup beragama lebih sempurna. Demikian intisari Khutbah Idul Fitri yang disampaikan Prof Dr Dadang Kahmad MSi di Perguruan Muhammadiyah Sidoarjo, Rabu (6/7) pagi.

(Baca: Kehidupan Akhirat Jangan Jadi Sambilan dan Shalat Id Ini Menyatukan Jamaah dari Berbagai Kelompok Islam)

Selama Ramadhan, kata Dadang, kita akrab dengan kata imsak dan takjil. Imsak secara harfiah berarti menahan diri atau mengendalikan diri. Pengendalian diri adalah inti beragama. Hasil penelitian di Chicago University Amerika, menahan diri dari godaan makanan saja, ternyata menjadi salah satu kunci kehidupan yang bahagia. “Dengan berusaha menahan diri, mendorong seseorang membuat keputusan yang lebih baik dan terhindar dari kesalahan,” kata Ketua PP Muhammadiyah ini, sembari mengutip Surat Albaqarah 188: “Dan janganlah kamu memakan harta milik orang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”

(Baca juga: Khutbah Idul Fitri PWM Jatim: Berhari Raya tanpa Ber-Idul Fitri dan Khutbah Idul Fitri di UMM: Karakter Muttaqien untuk Indonesia Bermartabat)

Dadang menjelaskan, penguasaan harta milik orang lain terjadi karena manusia tidak mampu menahan diri. “Koruptor adalah orang yang tidak mampu menahan diri karena serakah. Pezina adalah orang yang tidak mampu menahan diri dari dorongan seksual pada pasangan yang tidak sah. Demikian juga perampok, pencuri, pengutil, dan penipu,” ungkapnya.
Dadang melanjutkan bahwa pelajaran kedua dari puasa adalah takjil, yang berarti bersegera. Segera berbuka bila waktunya tiba. “Takjil memberi pelajaran pada kita agar tidak menunda kebaikan yang sudah diniatkan, sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali Imran 133: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.”

(Baca juga: Belum Pernah Lihat Ketua Muhammadiyah-NU Gantian Memijat? Di Kabupaten Inilah Kerukunan Itu Terwujud)

Dadang juga mengajak para jamaah untuk tetap teguh dalam ke-Islaman. “Jangan sampai terombang-ambing dan terbawa arus oleh kehidupan sekeliling yang semrawut.” Menyinggung soal metode hisab yang dipakai warga Muhammadiyah, Dadang mengatakan bahwa penanggalan hijriyah ‘sudah selesai’ melalui metoda hisab hakiki. “Di zaman modern seperti saat ini, teknologi hisab sudah teramat canggih dengan dukungan ilmu astronomi yang,“ ujarnya.

Tjatur, salah seorang jamaah yang dihubungi pwmu.co mengaku bahwa isi khutbah benar-benar sesuai dengan kondisi saat ini. “Seharusnya bisa menjadi pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik,” katanya. (MN)

TIDAK ADA KOMENTAR