Beranda Persyarikatan Kebahagiaan yang Sejati Itu Bisa Diraih dengan Iman, Ilmu dan Amal

Kebahagiaan yang Sejati Itu Bisa Diraih dengan Iman, Ilmu dan Amal

0
BAGIKAN
fd55bd7f-d352-4bf4-b701-54246f362cb9
Ainur Rafiq Sophiaan SE.MSi dalam kajian Ahad Pagi d Masjid Darul Falah Pare Kediri

PWMU.CO – Banyak orang merasa bahagia hanya berlangsung sesaat dan setelah itu kembali tertekan oleh problematika kehidupan yang makin kompleks dan rumit. Padahal kebahagiaan sejati baru bisa direngkuh dengan iman yang kuat, ilmu yang dalam serta amal salih yang berkelanjutan. Hal itu disampaikan Ainur Rafiq Sophiaan SE.MSi dalam kajian Ahad Pagi d Masjid Darul Falah Pare Kediri, Ahad (3/7).

Ainur yang juga Wakil Ketua LHKP PWM Jatim ini mengutip hasil survai BPS 2014 tentang Indeks Kebahagiaan Orang Indonesia dengan 10 indikator, sep. Pendidikan, kesehatan, pekerjaan, lingkungan dan keamanan. Dari indeks 0 jingga 100 angkanya mencapai 65,11. Artinya, orang Indonesia cukup bahagia.

Namun, dikatakan Ainur semua indikator itu bersifat duniawi dan material. “Faktanya kriminalitas dan angka bunuh diri d negeri ini terus meningkat. Perumahan dengan sistem security superketat terus menjamur meski tipe kecil2. Belum lagi soal narkoba. Orang mengkonsumsinya  untuk hilangkan stres,” jelasnya.

Kebahagiaan dalam kultur kita juga sering diukur dengan capaian materi. Seseorang sudah dianggap “dadi wong” bila sudah jadi sarjana, punya rumah, mobil, dan tabungan. Tidak peduli apakah dia batinnya aman atau gelisah. “Sawang sinawang” atau terlihat secara lahiriah sambil lalu bahagia.

Sebab itu, lanjut Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UPN Surabaya ini, perlu ada basic value, yaitu dzikrullah yang diwujudkan dalam hati, lisan, dan perbuatan. Itulah iman yang sempurna. (QS al Ra’ad : 28).

Kebahagiaan sejati juga bisa diraih dengan pencapaian prestasi ilmu yang optimal dan diimplementasikan dalam kerja-kerja positif atau amal salih. Di sinilah ormas, sep. Muhammadiyah berkontribusi besar. Data BPS mengisyaratkan, pendidikan makin tinggi seseorang makin bahagia.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bermujahadah (serius atau fokus) dan sabar (persisten) dalam menghadapi setiap tantangan hidup. “Orang yang cepat putus asa dan tidak fokus pada setiap pekerjaan sulit berhasil. Dampaknya terus mengeluh dan sedih alias kurang bahagia, ” tutupnya, sambil menyimpulkan, bahagia sejati adalah bahagia di dunia dan akhirat kelak.(aan)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan