Khutbah Idul Fitri di UMM: Karakter Muttaqien untuk Indonesia Bermartabat

Khutbah Idul Fitri di UMM: Karakter Muttaqien untuk Indonesia Bermartabat

668
0
BAGIKAN
Salah satu lokasi shalat Idul fitri 1437 H (foto: umm.ac.id)
Salah satu lokasi shalat Idul fitri 1437 H (foto: umm.ac.id)

PWMU.CO – Pada hari fitri yang penuh kemuliaan dan kebahagiaan ini, tiada ungkapan yang patut kita sanjungkan kehadirat Ilahy Rabby Allah SWT selain pujian syukur al-hamdulillah atas anugerah terindah yang senantiasa dicurahkan kepada kita hambaNya yang beriman. Diantara curahan rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada kita adalah bahwa kita pada pagi hari ini dihadirkan oleh Allah di majelis yang mulia ini dalam rangka melaksanakan shalat Idul Fitri 1437 H dalam keadaan iman dan sehat setelah sebelumnya kita melaksanakan puasa dan amalan lain yang menyertainya selama satu bulan Ramadhan.

Semoga Allah berkenan menerima shalat kita, puasa kita, zakat kita dan amalan-amalan lainnya dan berkenan menjadikan dan menetapkan kita sebagai hambanya yang Idul fitri (kembali kepada fitrah yang suci)  dan menjadi hambanya yang bertaqwa.

(Baca: Khutbah Idul Fitri PWM Jatim: Berhari Raya Tanpa Ber-Idul Fitri)

Tidak lupa Khatib berpesan kepada diri saya sendiri maupun kepada para jamaah yang mulia untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Taqwa adalah derajat manusia yang tinggi di mata Allah dan dimata manusia. “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah yang paling mulia. Orang yang mulia adalah orang yang bersikap dan berperilaku mulia, memuliakan Allah, diri sendiri dan sesama.

Dalam merayakan Idul Fitri ini marilah kita perbanyak takbir, tahlil, tahmid dan tasykur

Allah berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS al-Baqarah: 185)

(Baca: Apa yang Perlu Disiapkan dan Dilakukan Jelang-Saat Lebaran? Ini Himbauan Muhammadiyah)

Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd.
Shalawat serta salam semoga tetap tersampaikan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Nabi akhir zaman, kekasih Allah dan kekasih kita, teladan kita, dan yang selalu menginspirasi kita untuk selalu menjadi umat yang terbaik.

Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu memanjatkan puji syukur dan terima kasih bukan hanya kepada Allah tetapi juga kepada sesama manusia. Islam juga mengajarkan untuk selalu bershalawat  bukan hanya kepada para Nabi tetapi juga bershalawat kepada sesama manusia. Karena itulah pada hari yang fitri ini rasa syukur dan terima kasih yang tulus kita sampaikan kepada orang-orang terdekat kita: kedua orangtua kita yang telah menyayangi dan mendidik kita dengan tulus, atas jasa merekalah kita bisa menjadi seperti sekarang ini.

(Baca: Redaksi Takbiran: Allahu Akbar 2 atau 3 Kali? dan Tuntunan Praktis dalam Ber-Idul Fitri)

Semoga Allah mengampuni dan menyayangi keduanya. Keluarga terdekat kita istri atau suami beserta anak-anak kita kita yang telah menyayangi, melayani dan bersama kita dalam suka cita dan dikala duka lara semoga mereka menjadi hamba-hamba yang shaleh/shalehah dan keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah yang mampu melahirkan generasi yang berkualitas.

Ucapan terima kasih patut kita sampaikan kepada guru-guru kita dan para ustaz yang telah memberikan pencerahan kepada kita, serta para imam yang memimpin ibadah kita, disertai doa semoga ilmunya bermanfaat dan Allah memberikan balasan yang setimpal.

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus juga patut kita panjatkan kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita: pembantu rumah tangga yang melayani kita, Pak tani yang telah menyediakan kita makanan, para pemimpin pemerintahan (ulul amri) dan segenap aparaturnya yang telah mengurus urusan kita, pak polisi dan TNI yang memberikan rasa aman di lingkungan maupun dalam perjalanan bersilaturrahim.

Bagi yang bekerja di suatu instansi, patut kiranya kita berterima kasih kepada para pimpinan, kolegial dan bawahan kita yang telah membimbing dan melayani kita dan bahkan telah memberikan kepada kita tunjangan hari raya atau THR. Semoga kita dan mereka yang kita sebutkan tadi dan yang tidak kita sebutkan mendapatkan curahan rahmat dan kasih sayang dari Allah dan dapat bekerja melayani lebih baik lagi di masa-masa yang akan datang.

(Baca: Dalam Fiqih, Muhammadiyah Itu Bukan NU dan 6 Penyakit yang Perlu Diwaspadai Terkait Lebaran)

Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd

Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita dengan penuh kenangan yang indah, dan sangat efektif membentuk karakter muttaqin. Kewajiban  berpuasa dengan menggunakan kalimat “kutiba” (diwajibkan) atas kamu berpuasa” bermakna bahwa Puasa Ramadhan dan segenap amalan yang menyertainya adalah rancangan Tuhan agar kita bisa kembali suci (kesejatian) dengan kualitas kemanusiaan yang tinggi, yaitu muttaqin.  Dalam surat Al-Baqarah 177 dikemukakan bahwa karakter muttaqin dibangun atas empat sisi yaitu: mukmin, muslim, muhsin, dan muslih.

Mukmin  menggambarkan kualitas keimanan seseorang yang mampu merasakan kebesaran Allah (Allahu akbar), kasih sayang Allah (rahmatullah), kebersamaan dengan Allah (ma’iyyatullah), kedekatan dengan Allah (muraqabatullah), sangat mencintai Allah ( Hubullah),  dan mengenal dari dekat dan seakan menyatu dengan Allah (ma’rifatullah).

Muslim adalah orang yang pasrah atau tunduk dan patuh atas kehendak Allah (taslim) sehingga menemukan khidupan yang selamat, damai dan sejahtera lahir dan batin. Muhsin adalah orang yang selalu menjadi yang terbaik dalam perasaan (salimul qalb), pikiran (tanwirul fikr), ucapan (tahsinul lisan) dan tindakan (tashlihul amal); dan muslih adalah orang yang inovatif untuk  menciptakan kehidupan sosial lebih baik lagi.

(Baca: 44 Siswa SD Penghafal Alquran Juz 30 Itu Diwisuda dan Meski Hidup di Desa, Harus Tetap Waspada Narkoba)

Itulah karakter muttaqien yang kita bangun melalui madrasah ramadhan. Keberhasilan kita mencapai derajat muttaqien inilah yang pada hari ini kita rayakan sebagai hari kemenangan, yaitu kemenangan mengalahkan hawa nafsu, kemenangan terhadap segala keadaan dan godaan yang menghalangi emansipasi kemanusiaan menuju  kehidupan yang ideal.

Memang ibadah puasa itu bersifat sangat spiritual dan personal, tetapi memiliki dampak sosial yang besar. Karena itu bagaimana ketaqwaan itu kita jadikan sebagai modal untuk meraih kemengangan yang lebih nyata di dalam kehidupan ini, yaitu untuk membangun bangsa Indonesia yang bermoral dan bermartabat.

Bersambung halaman 2

1
2
3
BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR