Beranda Mu-safir Belajar dari Amerika: Sebagai Simbol Negara, Presiden Harus Dihormati

Belajar dari Amerika: Sebagai Simbol Negara, Presiden Harus Dihormati

0
BAGIKAN
Biyanto bersama peserta Summer Institute 2016 dari Polandia dan Newzeland (foto Biyanto)
Biyanto bersama peserta Summer Institute 2016 dari Polandia dan Newzeland (foto Biyanto)

PWMU.CO – Presiden Amerika Serikat punya peran penting dalam pembangunan bangsanya. Seperti George Washington (menjabat 1789-1797), Thomas Jefferson (menjabat 1801-1809), dan James Madison (menjabat 1809-1817). Demikian dikatakan Prof David Walker, Guru Besar University California Santa Barbara (UCSB) dalam kelas Summer Institute 2016, hari ke-5, Rabu (22/6).

(Baca: Kegelisahan Akademisi Amerika pada Sikap Antipluralisme Capres Donald Trump dan Ke Amerika, PWM akan Uraikan Konsep Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasy Syahadah)

Walker sengaja menampilkan tiga presiden itu karena dianggap berjasa besar dalam membangun Amerika pada periode-periode awal. Washington, kata Walker, berjasa besar karena sukses meletakkan dasar-dasar bernegara pascakemerdekaan. “Karena itu, Washington dijuluki Bapak Pendiri Amerika,” katanya.

Sedang Jefferson, tutur Walker, merupakan salah satu pencetus Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Karena itu, Jefferson juga disebut Bapak Pendiri Amerika. “Dan, James Madison sangat berjasa dalam penyusunan dan pengesahan konstitusi. Madison pun digelari Bapak Konstitusi Amerika,” ungkap Walker.

(Baca juga: Ketika Profesor Berbagai Negara Bahas HAM di Universitas Muhammadiyah Malang dan Mantan Wapres Boediono: Muhammadiyah Berperan dalam Konsep Negara Kesejahteraan)

Pelajaran sejarah dalam pandangan Walker tidak saja bertugas untuk mengkonstruksi kejadian masa silam. Yang jauh lebih penting, tutur Walker, pelajaran sejarah harus mampu menumbuhkan kebanggaan (proud) generasi muda pada pemimpin terdahulu. Inilah makna pembelajaran sejarah yang sesungguhnya.

“Generasi muda Amerika masa kini dan mendatang harus bangga dengan mantan Presiden Washington dan Jefferson. Masing-masing pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Justru dengan itu, generasi muda bisa belajar dan mengambil pelajaran dari pemimpinnya,” jelas Walker.

(Baca juga: Inilah Prinsip-Prinsip Negara Ideal yang Dibangun Rasulullah dan Ternyata Tata Negara Bangsa-Bangsa Barat Meniru Konsep Rasulullah)

Menurut Guru Besar Sejarah UCSB ini, internalisasi nilai-nilai karakter, yakni bangga berbangsa Amerika dan pemimpinnya, juga bisa dilakukan melalui pembelajaran sejarah. “Karena itu, pantang bagi generasi muda Amerika menelanjangi dan mencaci maki presidennya. Betapapun, mereka merupakan simbol kehormatan negaranya,” kata Walker. Pernyataan Walker ini penting, apalagi hal itu dikemukakan dalam konteks negara Amerika yang dikenal sangat bebas dan sekular.

Dalam kuliah ini, Walker dengan apik dan menarik mengkonstruksi sejarah Amerika. Ia paparkan sejarah Amerika mulai era penjajahan, perjuangan meraih kemerdekaan, dan perkembangan Amerika pascakemerdekaan. Bahkan kondisi Amerika terkini juga ia singgung.

(Baca juga: Nikmatnya Berpuasa Lebih Lama di Negeri Minoritas Muslim dan Ketika Malam Terasa Siang, Begitu juga Sebaliknya)

Pertanyaannya, bagaimana dengan pembelajaran sejarah di Tanah Air? Sudahkah berorientasi pada penanaman karakter bangga berbangsa dan bernegara Indonesia bagi generasi muda?

Jika sejarah bangsa diajarkan secara jujur dan jauh dari interes politik-ideologi, maka generasi masa kini bisa belajar dari kelebihan dan kekurangan para pendiri-pembangun bangsa. Tetapi sayang, masih banyak konstruksi sejarah bangsa ini yang diwarnai interes politik-ideologi rezim sebuah pemerintahan. Dampaknya, jika rezim itu jatuh, rezim pengganti kurang memberikan respek terhadap pendahulunya.

Semoga sejarawan dan guru-guru sejarah kita bisa menjadikan pembelajaran sejarah sebagai media menumbuhkan kebanggaan bertanah air Indonesia. Termasuk bangga dengan pemimpin terdahulu. Harus diyakinkan pada generasi muda kita, bahwa dengan segala kekurangannya, Indonesia masih merupakan tempat hunian yang terbaik. (*)

Laporan Biyanto, Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, peserta Summer Institute 2016 UCSB

Tinggalkan Balasan