Drama Kelahiran NKRI dengan Tiga Pemeran Tokoh Muhammadiyah

Drama Kelahiran NKRI dengan Tiga Pemeran Tokoh Muhammadiyah

499
0
BAGIKAN
Dari kiri: Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, dan Abdul Kahar Muzakir
Dari kiri: Ki Bagus Hadikusuma, Kasman Singodimejdo, dan Abdul Kahar Muzakkir

PWMU.CO – Dalam drama pendirian negara Indonesia, tokoh Muhammadiyah terlibat aktif sebagai kunci mempertahankan Indonesia hingga kini. Tidak sedikit sejarawan yang menyebut kunci Pancasila ada di tangan Ki Bagus Hadikusuma, sementara Kasman Singodimedjo adalah tokoh kunci yang membuat Ki Bagus bersedia menerima perubahan sila pertama. Sementara Abdul Kahar Muzakkir, selain aktif  memberi sumbangsih pemikiran sejak BPUPKI, dia juga tercatat sebagai salah satu panitia 9 yang melahirkan Piagam Jakarta.

(Baca: Drama Piagam Jakarta 22 Juni: Berawal Panitia 8, Berakhir di Tangan Panitia 9 dan Drama di Balik Pencoretan 7 Anak Kalimat Pancasila Versi 22 Juni)

Tak heran jika Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin menyatakan ketiganya merupakan figur-figur Muhammadiyah yang tidak berwatak sektarianistik, apalagi berego sentrisme persyarikatan dan keagamaan. “Kebetulan mereka figur-figur Muhammadiyah. Walaupun figur-figur Muhammadiyah, tapi mereka tidak berwatak sektarianistik, apalagi beregosentrisme persyarikatan dan keagamaan. Mereka berwatak kenegarawanan yang sangat tinggi,” jelas Din.

Bagi Muhammadiyah, sebagaimana yang ditegaskan dalam Tanwir 2012 di Bandung, Pancasila merupakan rahmat Allah untuk bangsa Indonesia sebagai dasar untuk memajukan dan membangun Indonesia yang merdeka dan berkemajuan. Pancasila bukan agama, tetapi substansinya mengandung dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.

(Baca juga: Soal Lahirnya Pancasila 1 Juni, Piagam Jakarta, dan Peran Politik Umat Islam dan Ke Amerika, PWM akan Uraikan Konsep Negara Pancasila sebagai Darul ‘Ahdi Wasy Syahadah)

Muhammadiyah menegaskan sikap dan pandangan bahwa Pancasila merupakan konsensus nasional terbaik untuk bangsa yang majemuk untuk mencapai cita-cita nasional yang harus diisi dengan persaingan secara sehat (fastabiqul khairat).

Indonesia yang berdasarkan Pancasila merupakan negara perjanjian atau kesepakatan (Darul ‘Ahdi),  negara kesaksian atau pembuktian (Darus Syahadah), dan negara yang aman dan damai (Darussalam). Dengan demikian, diperlukan institusionalisasi dan substansialisasi atas nilai-nilai Pancasila yang terbuka dan dinamis dalam berbangsa dan bernegara. (*)

TIDAK ADA KOMENTAR