Nikmatnya Berpuasa Lebih Lama di Negeri Minoritas Muslim

Nikmatnya Berpuasa Lebih Lama di Negeri Minoritas Muslim

460
0
BAGIKAN
Biyanto sesaat setelah berbelanja untuk menyiapkan buka dan sahur (foto: istimewa)
Biyanto sesaat setelah berbelanja untuk menyiapkan buka dan sahur (foto: istimewa)

PWMU.CO – Sejak tanggal 18 Juni kemarin, Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, DR Biyanto, berada di Amerika Serikat. Mengikuti “Short Term Scholar” yang dipusatkan di The University of California, Santa Barbara (USBC), dia akan berada di negeri Paman Sam itu hingga 31 Juli mendatang. Berikut adalah pengalamannya yang dituliskan untuk pwmu.co. Selamat membaca!

Pengalaman berpuasa di Santa Barbara, bagi saya memang sangat mengesankan. Dari segi waktu jelas lebih lama dibanding dengan tanah air. Jika di tanah air umat Islam rata-rata berpuasa 14 jam, di Santa Barbara hingga 16 jam lebih.

(Baca: Ke Amerika, PWM akan Uraikan Konsep Negara Pancasila sebagai Darul ‘Ahdi Wasy Syahadah dan Ketika Malam Terasa Siang, Begitu juga Sebaliknya)

Dari sisi waktu, tidak berbeda dengan Muslim di Indonesia, sama-sama memulai puasa pada pukul 04.00 waktu setempat. Hanya saja yang membedakan, jika Muslim Indonesia sudah bisa berbuka pada pukul 17.30 hingga 18.00 setempat, maka durasi lebih panjang terjadi di Santa Barbara. Sebab, buka puasa yang ditunggu itu terjadi pada pukul 20.25 waktu setempat.

Untungnya cuaca kali ini sangat bersahabat. Jadi tidak terasa lapar. Hanya haus yang saya rasakan. Godaan berpuasa di tengah mayoritas non-muslim juga sangat terasa. Dalam program yang saya ikuti hanya 3 orang muslim yang berpuasa; saya, peserta dari Pakistan dan Saudi Arabia. Selebihnya beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Tetapi justru itu yang menjadikan puasa di negeri orang terasa nikmat. Alhamdulillah puasa disini bisa lancar.

(Baca: Berminat Ikut Pertukaran Pelajar-Pemuda ke Amerika? Berikut adalah Programnya dan Ternyata Tata Negara Bangsa-Bangsa Barat Meniru Konsep Rasulullah)

Meski berpuasa, saya merasa ada yang hilang dari semarak Ramadan di tanah air. Sebab, saya tidak pernah mendengar suara adzan dan tadarus al-Qur’an. Juga tidak  sempat tarawih berjamaah. Terpaksa shalat tarawih dan tadarus sendiri di kamar. (Biyanto)

TIDAK ADA KOMENTAR