Dakwah Itu Harus Padukan Pemikiran dan Tindakan Nyata

Dakwah Itu Harus Padukan Pemikiran dan Tindakan Nyata

262
0
BAGIKAN
Prof Dr Achmad Jainuri MA
Prof Dr Achmad Jainuri MA saat memberikan materi pada Kajian Ramadhan 1437 PDM Kabupaten Malang (Foto Jamroji)

PWMU.CO – Muhammadiyah adalah  gerakan yang bersumber pada ideologi untuk menjawab persoalan yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, ideologi Muhammadiyah harus kuat tapi bersifat tentatif, yang bisa berubah sesuai tuntutan perkembangan masyarakat.

Demikian pesan yang disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Prof Dr Achmad Jainuri MA dalam “Kajian Ramadhan 1437 H Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang”, di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi Ahad (19/6) pagi.

(Baca: Dzikir dan Fikir Dikupas Tuntas dalam Kajian Ramadhan PWM Jatim dan Kajian Ramadhan Ini akan Terkenang hingga Akhir Hayat)

Jainuri mengatakan, ideologi Muhammadiyah terwujud dalam gerakan konkrit. Karenanya, Muhammadiyah mempunyai dakwah yang khas dibandingkan dengan organisasi lain. Selama ini masyarakat sering keliru bahwa Muhammadiyah itu hanya gerakan amal usaha.

“Dakwah Muhammadiyah itu sumbernya nilai ajaran Islam dan pemikiran kontemporer. Jadi bukan hanya amal usaha yang selama ini dipahami masyarakat luas. Amal usaha itu wujud konkrit dari pemikiran. Lha kalau dakwah tidak menyentuh tindakan nyata untuk apa? Masak dakwah hanya memakai kajian pemikiran,“ tegas Jainuri.

(Baca juga: Ternyata Tata Negara Bangsa-Bangsa Barat Meniru Konsep Rasulullah dan Ternyata Tata Negara Bangsa-Bangsa Barat Meniru Konsep Rasulullah)

Untuk itu, kata Jainuri, Muhammadiyah mencoba menggabungkan dakwah pemikiran dan dakwah bil hal (tindakan). Adapun sifat gerakan Muhammadiyah ada pada amar makruf nahi munkar. Gerakan Muhammadiyah juga bersifat kultural dan struktural.

“Selama ini Muhammaadiyah lebih dekat dengan gerakan kultural dan bukan struktural yang banyak berkaitan dengan politik. Namun demikian, gerakan Muhammadiyah juga tidak boleh apatis pada politik. Bukti bahwa gerakan kultural Muhammadiyah berhasil dengan banyaknya amal usaha. Selama saya menjadi rektor Umsida, justru banyak mahasiswa yang bukan berasal dari Muhammadiyah,” tegas mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu.

(Baca juga: Bangsa Indonesia Gagal Berpuasa dari Eksploitasi Alam dan Dalam Kajian Ramadhan, Haedar Bongkar Penyebab Lahirnya Terorisme)

Muhammadiyah berkhidmad pada dakwah kultural dengan penekanan pada bil hal karena dasar wawasan Muhammadiyah itu humanisnis. Guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini menegaskan, “Dakwah bil hal itu jelas karena berpegang pada wawasan Islam humanistis. Wawasan ini menekankan pada akidah Islam, toleransi, pluralitas. Kalau selama ini banyak yang gembar-gembor masalah toleransi, Muhammadiyah ada di bagian terdepan dalam membangun semangat itu.” (nrd)

TIDAK ADA KOMENTAR