Hidup Harus Bermanfaat, Jangan Kalah dengan Relawan Perlintasan Kereta Api

Hidup Harus Bermanfaat, Jangan Kalah dengan Relawan Perlintasan Kereta Api

282
0
BAGIKAN
Sebagian tamu "Buka Puasa Bersama" di rumah Wakil Ketua PWM Jatim Nadjib Hamid (foto Nurfatoni)
Sebagian tamu “Buka Puasa Bersama” di rumah Wakil Ketua PWM Jatim Nadjib Hamid (foto Nurfatoni)

PWMU.CO – Hidup itu harus bermanfaat. Seperti diajarkan oleh Nabi saw, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang bisa memberi manfaat pada sesama. Itulah inti ceramah menjelang “Buka Puasa Bersama” yang disampaikan oleh aktivis dakwah Nadjib Hamid di rumahnya Jalan Ubi VI/27 A, Surabaya, Jumat (17/6) sore.

Menurut Nadjib, manusia harus memberi manfaat untuk kepentingan orang lain. “Masak, kita yang banyak diberi kelebihan dan kesempatan ini kalah dengan relawan penjaga perlintasan kereta api,” ujarnya.

(Baca: Kisah Mbah Saturi, Wonder Women Sepuh dari Gondanglegi dan Kisah Islamnya Firanda dan Bimbingan Ibu-Ibu Aisyiyah)

Wakil Ketua PWM Jatim ini pernah bertanya pada seorang relawan penjaga perlintasan kereta api. Dan jawabannya cukup mengejutkan. “Tujuan saya hanya satu yaitu untuk menolong nyawa orang lain,” kata Nadjib menirukan ucapan relawan tersebut.

Mungkin selama ini, kata Nadjib, kita menganggap bahwa para relawan yang bersusah-payah menunggu perlintasan kerata api tanpa palang pintu itu untuk mencari uang. “Ternyata tidak. Justru niatnya untuk menolong sesama. Luar biasa jasa mereka untuk keselamatan sesama.”

(Baca juga: Memberi Tak Harap Kembali: Kisah Nyata Ketika Din Syamsuddin Bertemu Seorang Ibu di Pesawat dan Tugas Mendidik Anak pada Ayah, Bukan Ibu apalagi Sekolah)

Mantan Komisioner KPU Jatim ini juga memberi contoh Abdul Syukur, atau yang populer dipanggil Pak Dul, seorang abang becak berusia lanjut, yang menjadi sukarelawan penambal jalan berlubang di Surabaya. “Hebatnya, Pak Dul, melakukannya tanpa pamrih, tanpa bayaran. Dia mengerjakannya sendirian,” kata ayah 3 anak ini. “Dan berapa nyawa pengendara yang terselamatkan oleh perbuatan Pak Dul itu, karena terhindar dari lubang-lubang di jalanan.”

Acara “Buka Puasa Bersama” ini adalah tradisi tahunan yang dilakukan oleh Nadjib Hamid. Di samping mengundang keluarga dekat, Nadjib juga mengundang sahabat dakwahnya, baik yang ada di PWM Jatim maupun Masjid Ummul Mukminin, tempat ia menjadi Ketua Yayasan. “Untuk kali ini tetangga tidak diundang, karena kuatir tidak cukup tempatnya. Kami hanya mengirim makanan ke rumah mereka,” tuturnya. Buka bersama kali ini pun istimewa, karena diliput oleh Kompas TV. (MN/Dede)

TIDAK ADA KOMENTAR