Empat Kiat Membangun Rumah Tangga Bahagia Menurut Nabi

Empat Kiat Membangun Rumah Tangga Bahagia Menurut Nabi

664
0
BAGIKAN
56c64f51-fc1f-4be4-8029-a073cbe90f6f
Muhammad Sholihin saat mengisi pengajian Ahad pagi PRM Penanggungan Kota Malang. (foto: dok pribadi)

PWMU.CO – Rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap keluarga. Namun, tidak semua pasangan (keluarga) bisa mencapainya. Maka, diperlukan pondasi yang kuat untuk membangun biduk rumah tangga bahagia. Menurut Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Muhammad Sholihin ada empat resep Rasulullah saw yang bisa membuat hidup berumah tangga menjadi bahagia.

Pertama adalah istri yang shalehah. Dalam memilih calon istri, mantan Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya ini mengatakan, jangan hanya dilihat dari kecantikannya semata. Karena kecantikan tidak dapat menjamin kebahagiaan rumah tangga. ”Tetapi pilihlah wanita yang taat beragama. Insyaallah, kebahagiaan akan kita dapatkan,” kata Sholihin dalam Pengajian Ahad Pagi bertema “Islam dan Keluarga”, yang diselenggarakan PRM Penanggungan Kota Malang, Ahad (12/6) lalu.

(Baca: 5 Cara Emas Mendidik Anak Menurut Imam Al-Ghozali dan Tiga Cara Mendidik Anak agar Shaleh)

Kriteria wanita shalehah menurut agama, kata Sholihin, adalah wanita yang taat kepada suami. Mampu menjaga harta dan kehormatannya ketika ditinggalkan suaminya. Bahkan, Rasulullah saw meletakkan ciri wanita yang taat, sebagai kriteria utama. ”Wanita adalah tiang negara. Bila wanitanya baik, maka baik pula negaranya. Begitu juga sebaliknya,” katanya. Sholihin menjelaskan bahwa seorang ahli pernah mengatakan, seorang ibu yang baik, lebih utama dibandingkan 100 kepala sekolah yang baik.

Yang kedua adalah pasangan yang memiliki anak shaleh. Sholihin mengatakan, dalam membentuk anak shaleh, saat ini bukan perkara mudah. Membutuhkan energi, pikiran, usaha, dan biaya maupun doa yang cukup dari orang tua. Karena saat ini, lingkungan sekitar anak telah dicemari oleh polusi teknologi dan arus globalisasi yang menggerus nilai-nilai agama, moral dan kearifan sosial.

”Anak harus diberi bekal agama yang kuat, untuk menangkal pengaruh buruk tersebut. Satu-satunya alat penangkal yang paling kuat hanyalah agama. Untuk itu, tanamkan nilai – nilai agama sejak kecil. Sehingga kelak anak akan tumbuh dengan sehat,” ujarnya.

(Baca: Inilah 5 Ciri Islam Berkemajauan dan 3 Inti dalam Ber-Islam)

Ketiga adalah diperlukan teman dan lingkungan yang alim. Karena pengaruh lingkungan, ungkap Sholihin, sangat besar dan dominan dalam menciptakan kebahagiaan rumah tangga. ”Bila kita tidak jeli memilih lingkungan atau teman, maka kita akan mudah terpengaruh dengan gaya hidup yang materialistis dan hedonisme,” ungkapnya.

Sholihin memaparkan masyarakat seringkali salah menilai orang, karena hanya dinilai dari harta dan jabatannya yang tinggi. Sementara mereka yang alim, tetapi tidak memiliki kelebihan harta cenderung diabaikan. ”Sesungguhnya Allah swt melihat hati dan amal kita,” paparnya.

Terakhir, adalah memiliki pekerjaan yang baik. Sholihin menerangkan seorang suami, harus memiliki pekerjaan (penghasilan) yang baik. ”Tapi payakan untuk bekerja tidak jauh dari tempat tinggal,” tandasnya. (aan)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR