Beranda Kabar Umum Waspada Jajanan Ramadhan, Mahasiswa UMSurabaya Ini Ciptakan Alat Pendeteksi Makanan Berbahan Zat...

Waspada Jajanan Ramadhan, Mahasiswa UMSurabaya Ini Ciptakan Alat Pendeteksi Makanan Berbahan Zat Kimia Berbahaya

0
BAGIKAN
Alat Deteksi Makanan (2)
Dari kanan: Risma Kartika dan Rafiah Faradillah, dua mahasiswi UMSurabaya penemu inovasi alat pendeteksi makanan berbahan kimia berbahaya (foto Dede)

PWMU.CO – Bulan Ramadhan bisa dibilang surganya kuliner. Beraneka jenis makanan dan jajanan ditawarkan. Baik untuk berbuka puasa maupun untuk persiapan lebaran. Bukan hanya di mall dan pasar, bahkan banyak dijumpai para pedagang dadakan menjual makanan di jalan-jalan. Persoalannya, apakah jajanan itu aman untuk dikonsumsi? Apakah tidak mengandung zat kimi yang berbahaya?

Untuk menjawab hal itu, Risma Kartika dan Rafiah Faradillah, dua mahasiswi Program Studi Analis Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) membuat inovasi alat pedeteksi zat berbahaya pada makanan. Alat yang diberi nama Aditif Quick Check Set Pen (Aqice Pen) tersebut dirilis tepat di hari ke-9 di bulan suci Ramadhan, Selasa (14/6) siang di Kampus UMSUrabaya Jalan Sutorejo.

(Baca: Mahasiswa UMSurabaya Terima Penghargaan Juara Inovasi Teknologi di HUT Surabaya dan UMSurabaya Siap Patenkan Produk-Produk Inovasi Mahasiswa)

Risma Kartika mengatakan, alat tersebut berguna untuk mewaspadai makanan atau jajanan kebutuhan berbuka puasa yang mengandung pengawet seperti formalin, borak, dan zat berbahaya lainnya. “Alat ini sudah kami lakukan uji sampel 10 pasar di Surabaya,” katanya.

Dari uji tersebut, kata Risma, didapatkan hasil sebagai berikut: terdapat 8 sampel pasar yang menggunakan pewarna tekstil, 7 pasar masih menggunakan borak untuk beberapa jenis makanan, dan ada 9 pasar menggunakan garam beriodium. “Oleh karena itu kami menghimbau kepada seluruh masyarakat Surabaya agar lebih berhati hati dalam memilih makanan untuk berbuka di bulan puasa ini,” ujar Risma.

(Baca juga: Mahasiswa UMSurabaya Ciptakan Obat Antinyamuk dari Kulit Durian dan Mahasiswa UM Surabaya Gagas Masjid Supercanggih)

Sementara itu, Rafiah Faradilla menjelaskan bahwa teknik pembuatan alat ini uji cukup mudah. “Pertama, untuk zat pewarna menggunakan natrium bikarbonat atau soda kue. Sedangkan untuk uji boraks menggunakan ekstrak kunyit.” Rafiah

Untuk uji borak, jelas Rofiah, kunyit diparut kemudian diambil airnya. Setelah itu bisa langsung diujikan ke sampel makanannya. Sedangkan untuk uji kandungan iodium bisa menggunakan larutan kalium iodida, asam fosfat, dan amilum. Ketiga zat itu dicampur setelah dihomogenkan. “Semuanya bisa diperoleh ditoko bahan bahan kue kecuali yang iodium karana harus menggunakan campuran zat kimia,” ujarnya.

(Baca juga: Peneliti UMSurabaya: Perilaku Seks Remaja SMP Memprihatinkan dan Inilah 12 Produk Inovasi Mahasiswa UMSurabaya yang Jadi Finalis Kompetisi Produk Tepat Guna)

Rektor UMSurabaya Dr dr Sukadiono MM menyampaikan bahwa apa yang telah dilakukan oleh mahasiswa tersebut merupakan bentuk aksi nyata dari kampus untuk masyarakat. Beliau juga menghimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati hati dalam membeli makanan bebas baik untuk berbuka maupun untuk sahur. “Makanan yang mengandung pengawet borak ataupun zat pewarna tersebut dapat menyebabkan penyakit kangker,” ujar dia. (Dede)

Tinggalkan Balasan