Beranda Persyarikatan 4 Tantangan Keberagamaan Era Kontemporer

4 Tantangan Keberagamaan Era Kontemporer

0
BAGIKAN
Amin Abdullah
Amin Abdullah di UMM Dome (foto Nurfatoni)

PWMU.CO – Prof Dr Amin Abdullah saat menjadi narasumber dalam Kajian Ramadhan 1437 H, Ahad (12/6) di DOME Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengatakan tantangan pemikiran keagamaan cenderung sejalan dengan perkembangan sejarah politik dunia. Dalam era kontemporer ini, ada empat tantangan dalam beragama.

Pertama adalah toleransi dalam beragama. Menurut Amin Abdullah, menerima keberagaman keyakinan itu tidak mudah. “Berlapang dada di ruang publik membutuhkan ilmu yang cukup,” kata Amin Abdullah.

(Baca: Ini Jawaban Mengapa Penghuni Surga selalu Muda dan Gerakan Muhammadiyah Kekal karena Mengaktualisasikan Kalimat Thayyibah)

Tantangan kedua adalah dekatnya hubungan beragama. Amin Abdullah mengungkapkan, data pemeluk agama di dunia menunjukkan bahwa umat Islam di dunia saat ini adalah 23 persen dan umat Kristen yaitu 32 persen, Sedangkan yang non muslim dan Kristen mencapai 45 persen.

“Ini menunjukkan bahwa dimana ada orang Islam disitu ada orang Kristen. Inilah tantangan kita. Baru-baru ini, Muhammad Ali meninggal dan pemakamannya adalah ala Islam. Padahal di pemakaman itu dihadiri oleh tokoh-tokoh dunia yang kebanyakan non muslim. Ini menunjukkan bahwa hubungan beragama semakin dekat,” terang Amin.

(Baca juga: Dzikir dan Fikir Dikupas Tuntas dalam Kajian Ramadhan PWM Jatim dan Jangan Ada Lagi yang Sebut Yayasan Muhammadiyah)

Tantangan ke empat adalah kesetaraan hak. Baik dalam politik, sosial dan lain sebagainya. “Ini juga tantangan yang berat. Apalagi di Indonesia, kita terbentur dengan pancasila dan konstitusi. Tentang hak politik juga sering kita temui saat pilkada. Lihatlah ketika Ahok ikut pilkada. Begitu juga di London. Di sana pun berat memilih wali kota muslim,” jelasnya.

(Baca juga: Dalam Kajian Ramadhan, Haedar Bongkar Penyebab Lahirnya Terorisme)

Tantangan terakhir adalah kesetaraan gender. Menurut Amin Abdullah, kurangnya kesetaraan gender ini juga masih banyak terjadi pada umat Islam, bahkan di lingkungan Muhammadiyah.

“Saya pernah mendapat laporan, ada jama’ah yang mengeluh karena sikap penceramah terhadap perempuan saat memberikan materi kurang nyaman,” pungkasnya.

Perlu diketahui, pada kesempatan tersebut Prof. Dr. Amin Abdullah didaulat sebagai pemateri dalam panel IV dengan tema Harmoni Fikir-Zikir: Tantangan Beragama Era Kontemporer. Selain Prof. Dr. Amin Abdullah, ada satu pemateri lainnya, yakni Prof. Dr. Din Syamsuddin. Sedangkan yang menjadi moderator adalah Nadjib Hamid, M.Si. (ilmi)

 

 

Tinggalkan Balasan