Beranda Persyarikatan Harmoni Fikir dan Zikir Hasilkan Paradigma Kemanfaatan

Harmoni Fikir dan Zikir Hasilkan Paradigma Kemanfaatan

0
BAGIKAN
Para nara sumber Kajian Ramadhan dengan tema Harmoni Fikir dan Zikir: Tugas Cendekiawan Muslim, Dari kanan: Muhajir Efendy, Biyanto (moderator) dan A. Malik Fadjar. (foto Nurfatoni)
Para nara sumber Kajian Ramadhan dengan tema Harmoni Fikir dan Zikir: Tugas Cendekiawan Muslim, Dari kanan: Muhajir Effendi, Biyanto (moderator) dan A. Malik Fadjar. (foto Nurfatoni)

PWMU.CO – Ketua PP Muhammadiyah Dr Muhajir Effendi dalam sesi diskusi panel yang bertemakan “Harmoni Fikir dan Dzikir: Tugas Cendekiawan Muslim” menyampaikan bahwa dalam beberapa hal manusia diberi kesamaan dengan makhluk lainnya. Namun, manusia juga diberi pembeda dengan makhluk lainnya.

”Kita diberikan kesamaan dengan makhluk lain, berupa kesempurnaan ragawi dan juga piranti penuntun berupa naluri. Bahkan, manusia dalam beberapa hal itu kalah,” kata Muhajir di hadapan jama’ah kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang memadati Hall UMM Dome, Ahad (12/6).

(Baca: Ini Jawaban Mengapa Penghuni Surga selalu Muda dan Gerakan Muhammadiyah Kekal karena Mengaktualisasikan Kalimat Thayyibah)

Muhajir mengatakan, yang menjadi pembeda manusia dengan makhluk yang lain adalah penuntun kebenaran yang berupa akal fikiran. Selain itu, manusia juga diberi pembeda dan alat penuntun kebenaranan lain, yakni berupa wahyu yang datangnya langsung dari Allah swt melalui Nabi Muhammad sebagai penyampai pesan (wahyu).

”Kebenaran wahyu bisa kita peroleh melalui jalan keimanan. Yakni kita wajib percaya kepada pembawa wahyu maupun wahyu yang disampaikan itu sendiri,” paparnya.

(Baca juga: Dzikir dan Fikir Dikupas Tuntas dalam Kajian Ramadhan PWM Jatim dan Jangan Ada Lagi yang Sebut Yayasan Muhammadiyah)

Klimaks dari fikir dan dzikir, kata Muhajir, adalah segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada yang percuma. Semua ada fungsi dan manfaatnya masing-masing. Bahkan penyakit, lanjut Muhajir, punya manfaat.

Lebih lanjut, Muhajir memaparkan tentang tugas dari cendikiawan atau ulul albab. Menurut Muhajir tugas cendekiawan, selain mampu menggunakan akal fikiran yang dikunci dengan iman. Tugas cendikiawan adalah harus siap berjihad, berjuang di jalan Allah swt.

(Baca juga: Dalam Kajian Ramadhan, Haedar Bongkar Penyebab Lahirnya Terorisme)

”Jihad Muhammadiyah saat ini belum lengkap, karena lebih banyak amar makrufnya dari pada nahi munkarnya. Muhammadiyah memilih jihad melalui pendidikan dan kesehatan. Maka kita (Muhammadiyah) harus lebih semangat untuk nahi munkarnya,” kata Muhajir. (aan)

Tinggalkan Balasan