Ternyata, Ada 4 Tokoh Muhammadiyah Jatim yang Diabadikan sebagai Nama Rumah Sakit Pemerintah!

1902
0
BAGIKAN
Ternyata, ada 4 Tokoh Muhammadiyah Jatim yang diabadikan sebagai Nama Rumah Sakit Pemerintah!
Salah satu bangunan RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo (foto: rsudkabsitubondo)

PWMU.CO – Setelah menurunkan ulasan 3 tokoh Muhammadiyah Jatim yang diabadikan sebagai nama rumah sakit pemerintah, berbagai komentar bermunculan dari pembaca. Terutama lewat email redaksi, maupun yang mengirim langsung lewat sms dan WhatsApp kepada awak redaksi. Banyak pembaca yang “kaget” karena merasa baru tahu ketiga orang yang dijadikan sebagai nama Rumah Sakit Pemerintah itu ternyata penggerak Muhammadiyah pada masanya.

Selain yang baru “tahu”, ada juga yang mengabarkan temuan baru. Bukan hanya 3 tokoh kesehatan Muhammadiyah yang diabadikan, tapi seharusnya ada 4 nama. Seperti Ahmad Zahri, SH, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Situbondo 2005-2010 dan 2010-2015, yang memberi kabar baru. Menurutnya, yang kemudian dikonfirmasikan kepada tokoh-tokoh “sepuh” Situbondo, nama dr Abdoer Rahem untuk Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Kabupaten Situbondo ternyata juga diambil dari nama tokoh Muhammadiyah.

(Baca: 3 Tokoh Muhammadiyah Jatim yang Diabadikan sebagai Nama Rumah Sakit Pemerintah)

“Menurut penuturan para sesepuh Situbondo, beliau adalah Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Situbondo generasi ketiga,” begitu kata Zahri saat dikonfirmasi pwmu.co. Sebutan “generasi ketiga” merujuk pada sejarah perjalanan Muhammadiyah sesaat setelah Belanda resmi mengakui kedaulatan Indonesia pada Desember 1949. Mulai tahun 1951, Muhammadiyah di berbagai daerah berbenah lagi dalam menata organisasi setelah 5 tahun terfokus pada perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Pada periode inilah, dokter Abdoer Rahem terlibat dalam kebangkitan Muhammadiyah Situbondo sebagai Sekretaris,” jelas Zahri.

Sebutan “Pimpinan Cabang” generasi ketiga ini tentu saja tidak sama maksudnya dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah sekarang. Sebab, pada tahun 1950-an awal, pimpinan Muhammadiyah tingkat kabupaten/kota masih disebut dengan “Cabang”. Perubahan Pimpinan Cabang menjadi Pimpinan Daerah baru dilakukan tahun 1965-an, tepatnya setelah muktamar Muhammadiyah di Bandung.

Pengabadian 4 tokoh Muhammadiyah ini sebagai nama RSUD menunjukkan sejarah Muhammadiyah merupakan gerakan yang fungsional bagi pemecahan masalah kemanusiaan. Kekuatan utama gerakan ini terletak pada etika dan semangat ke-welas-asih-an atas sesama, sikap terbuka dan toleransi. Berbagai perangkat inilah yang membuat dakwah Muhammadiyah memang melintasi umat, bangsa, dan kemanusiaan universal. (kholid)

Tinggalkan Balasan