Tajdied Center, dari Muhammadiyah untuk Umat

621
0
BAGIKAN
Penandatanganan MoU Pembinaan Anak di LPKA kelas 1 Kota Blitar. Tajdid Center menjadi salah satu Tim pembina
Foto bersama setelah penandatanganan MoU Pembinaan Anak di LPKA kelas 1 Kota Blitar (foto Fatkhul Mufid)

PWMU.CO – Tajdied Center (TC) adalah institusi di bawah naungan PT. Daya Matahari Utama (DMU). Lembaga ini khusus menangani pembelajaran Alquran, baik membaca, menulis, menghafal, dan memahami Alquran.

Ketua Tajdied Center, Misbahul Munir, TC diambil dari nama salah satu buku ajar baca Alquran milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yaitu Tajdied. Nama Tajdied dipakai berdasarkan usulan almarhum Ustadz Mu’ammal Hamidi yang melihat adanya paradigma baru dalam pembelajaran Alquran di buku tersebut.

Dalam telaah Mua’mmal, hal baru dan berbeda yang ditawarkan dalam buku tersebut, dibanding dengan buku lain, di antaranya, sejak dari pembelajaran awal langsung menggunakan huruf bersambung. Sedangkan, pada buku lain, selalu mengawali dengan huruf-huruf tunggal.

Keunggulan lain adalah rasm Alquran yang dipakai berstandar internasional, yaitu Alquran rasm Utsmany atau yang dikenal dengan Quran Beirut. Di samping itu, teori tajwidnya sederhana, berbeda dengan tajwid yang sudah mainstream. Tampak sekali pembaharuan teori yang klop dengan simbol yang ada dalam Aqur’an rasm Utsmany. Dan ini cocok, terutama untuk madzhab qiroaat yang mainstream dipakai di dunia (qiro’at Imam Hafs). Bagi guru Alquran, penyederhanaan teori ini membuka wacana baru dalam keilmuan tajwid. Dari keunggulan buku Tadjied inilah, kemudian Tajdied Center dinamai dan dibentuk.

Hingga kini, beberapa kali TC diminta untuk memberi training, baik di lingkungan Muhammadiyah maupun di luar Muhammadiyah. Satu di antaranya adalah di Kabupaten Lumajang. Beberapa sekolah negeri di sana sudah menggunakan buku Tajdied. Bahkan, pada tahun ajaran 2016-2017 mendatang, buku Tajdied akan digunakan untuk memberantas buta huruf Alquran, khususnya untuk mahasiswa di perguruan tinggi daerah tapal kuda.

Selain itu, buku Tajdied juga sudah menyebar di berbagai daerah, di antaranya Bojonegoro, Jombang, Madura, Probolinggo dan Malang, serta luar Jawa seperti Bangka Belitung dan menyusul Kalimantan Timur.

”Semoga Tajdied yang lahir dari Muhammadiyah untuk umat ini, bisa menghilangkan stigma bahwa Muhammadiyah tidak bisa ngaji dengan baik. Bisanya hanya mengkaji,” kata Misbahul menutup perbincangan dengan PWMU.CO, Kamis 917/3)  (aan)

 

 

 

Tinggalkan Balasan