Tinggalkan Legislatif, Enjoy Jadi Mubaligh

641
0
BAGIKAN
Yuzuar Datuk Marajo menikmati aktivitas sebagai mubaligh pasca lengser dari legislatif. (foto: agus wahyudi/pwmu.co

PWMU.CO – Lakon kehidupan memang penuh misteri. Tak ada yang bisa menebak. Karena tak selamanya rencana dan pilihan manusia bisa sejalan sesuai keinginan. Dan yang pasti, ada hikmah di balik semua peristiwa. Kenyataan itu diyakini Yuzuar Datuk Marajo. Pria kelahiran Padang, 2 Oktober 1962, itu tercatat hampir tujuh tahun meninggalkan gelanggang kekuasaan. Dan kini dia menikmati menjadi mubaligh Muhammadiyah sekaligus dan menekuni bisnis kuliner.

Datuk, begitu ia karib disapa, adalah mantan anggota DPRD Surabaya periode 2004-2009. Ia sempat menjabat Ketua Fraksi Partai Amanan Nasional (FPAN) dan Anggota Komisi D, bidang yang membidangi kesejahteraan rakyat (kesra). Asa yang diusung sejatinya sungguh besar. Karena di Komisi D, dia terlibat menyelesaikan masalah-masalah krusial. Di antaranya kasus perburuhan, peredaran minuman keras, narkoba, prostitisi, dan masih banyak lagi.

Kala menjadi legislator, dia yakin perubahan bisa dilakukan. Sebab, perubahan butuh kekuasaan. Tak bisa hanya berkoar-koar di jalanan. Tanpa kekuasaan, mustahil mampu mengubah kebijakan maupun regulasi. Makanya, menjadi legislator merupakan alasan Datuk berkiprah di jalur politik. Tapi realitasnya tidak gampang. Karena di legislatif, suara mayoritas sangat menentukan. Sehingga, tak sedikit kebijakan maupun regulasi ujungnya tidak seiring dengan harapannya. “Karena kita kalah suara. Itu kenyataan yang sering bertentangan dengan batin,” ucap Datuk kepada pwmu.co.

Datuk lalu menyebutkan kasus penutupan Lokalisasi Dolly pada 2014 lalu. Jauh sebelumnya, dia dan beberapa legislator sudah menyuarakannya. Intinya, Pemerintah Kota Surabaya harus menutup lokalisasi terbesar di Asia Tenggara tersebut. Hanya, tuntutan itu seperti angin lalu. Hilang tanpa pesan. Kekecewaan serupa juga dirasakan saat maraknya peredaran minuman beralkohol (minol) di waralaba. Ketika di legislatif, Datuk juga ikut menuntut pelarangan. Ini lantaran dia mendapati banyak anak sekolah bisa membeli membeli mihol dengan mudah di waralaba. Namun, lagi-lagi, dukungan mayoritas tak berpihak. Suara Datuk sayup-sayup raib ditelan angin.

Baca lanjutan: Buka Warung Padang, hal 2

Tinggalkan Balasan