Sambil Menangis, Pendiri Aisyiyah Malang Berusia 100 Tahun Ini Semangati Kadernya dalam...

Sambil Menangis, Pendiri Aisyiyah Malang Berusia 100 Tahun Ini Semangati Kadernya dalam Berjuang

3348
0
BAGIKAN
Hj Sofiah saat ultah ke-100 (foto dok keluarga)
Hj Sofiah saat ultah ke-100 (foto dok keluarga)

PWMU.CO – Jika ada yang bertanya siapa penyebar sekaligus kader Aisyiyah pertama di Malang, maka jawabannya dengan mudah bisa diberikan. Tidak hanya itu. Pelaku sejarahnya pun masih bisa ditemui. Karena ia masih hidup dan tinggal di Malang. Ia adalah Hj Sofiah, atau yang dikenal dengan Bu Rono.

Hebatnya, meski usianya telah mencapai 100 tahun, Sofiah tidak lupa pada Aisyiyah. Organisasi yang ia sebarkan dari Yogyakarta ke Malang itu, masih ia tanyakan kabar perkembangannya.

(Baca: Dengan Kursi Roda, Sesepuh Ini Hadiri Konsolidasi Aisyiyah untuk Beri Motivasi)

Dalam kondisi tubuh yang sudah sangat lemah dan terbaring sakit, ia juga berpesan pada para kader Aisyiyah agar tetap semangat dan konsisten ber-Muhammadiyah. “Di mana dan kapan pun kalian harus tetap berjuang,” tuturnya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.

Peristiwa itu terjadi saat pwmu.co mengunjunginya tepat di hari ulang tahunnya yang ke-100, Ahad (17/7), beberapa waktu lalu.

Utusan Madrasah Mu’allimat
Madrasah Mu’allimat Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari berdirinya Muhammadiyah. Untuk mewujudkan tujuan Persyarikatan dalam menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, Muhammadiyah memerlukan kader-kader ulama.

(Baca juga: Dari Uang Recehan, Pesantren Mahasiswi “Islamic College Aisyiyah” Malang Ini Jadi Solusi Perkaderan Muhammadiyah)

Kader itu menjadi keniscayaan untuk menjalankan fungsi pelopor, pelangsung,  dan penyempurna perjuangan dan amal usaha Muhammadiyah. Secara eksternal mereka diharapkan menjadi kader umat, bangsa, dan dunia yang membawa gagasan rahmatan lil’alamin.

Itulah sebabnya pada tahun 1918 KH Ahmad Dahlan mendirikan Al Qismul Arqa yang pada tahun 1921 diubah menjadi Pondok Moehammadiyah, kemudian diubah lagi menjadi Kweekschool Moehammadiyah. Nah pada tahun 1924 santri laki-laki dan perempuan mulai dipisah. Pada tahun 1932, pemisahan itu secara resmi dinamakan Mu’allimin (untuk laki-laki) dan Mu’allimat (untuk perempuan). Bersambung ke halaman 2 …

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR