KPK: 3 Poin Penting yang Harus Dipegang Teguh agar Tak Korupsi

KPK: 3 Poin Penting yang Harus Dipegang Teguh agar Tak Korupsi

194
0
BAGIKAN
kpk
Dikyanmas KPK Sujanarko memaparkan materi tentang pencegahan korupsi di kuliah tamu UMM. (Foto: Humas UMM)

PWMU.CO – Sebagai upaya untuk menggembleng mental anti-korupsi mahasiswa baru, Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengadakan kuliah tamu, di UMM Dome Kamis (13/10). Kegiatan yang mengangkat tema “Menyiapkan Generasi Hukum yang Bersih dan Antikorupsi” menghadirkan Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) KPK, Sujanarko.

Dalam paparannya, Sujanarko mengungkapkan, dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara, palayan publik paling banyak melakukan suap, yakni Kepolisian Indonesia dengan angka 75 persen. Sedangkan jaksa, hakim, serta penyidik sebesar 66 persen, sementara instansi pendidikan sebesar 21 persen.Sedangkan, jabatan yang paling banyak melakukan korupsi tertinggi dipegang oleh swasta sebesar 142 kasus, pejabat eselon 1, 2, dan 3 sebanyak 129 kasus, dan anggota DPR/DPRD 119 kasus.

(Baca: Gerakan Antikorupsi Bisa Dimulai dari Sekolah Muhammadiyah dan Pemuda Muhammadiyah Bekhidmat Lawan Korupsi)

”Swasta-lah yang paling banyak kasusnya. Karena dengan uang yang dimiliki berkali-kali lipat dibandingkan APBN, swasta dapat ‘mempermainkan’ para pejabat negara. Ironisnya adalah KPK tidak berwenang menindak swasta,” ujar Sujanarko di hadapan 400 mahasiswa.

Lebih lanjut Sujanarko menekankan, pentingnya tiga poin yang harus dipegang teguh agar tidak korupsi dan posisi Indonesia sebagai 20 besar negara bisa turun. Tiga poin itu yakni ber-antikorupsi, ber-spesialisasi, dan ber-integritas. Sujanarko lantas menjelaskan, ber-antikorupsi artinya harus bertekad untuk tidak melakukan korupsi dalam bentuk apapun. Sedangkan ber-spesialisasi dimaksudkan agar apapun profesinya, haruslah menjalankan pekerjaan sesuai jobdesk  bidang profesionalnya. Terakhir integritas bermakna menjalankan sesuatu yang baik dan benar tanpa  diawasi.

(Baca juga: Berani Nyontek Berani Tak Naik Kelas: Gerakan Kejujuran di Pesantren Antikorupsi Pertama di Sidoarjo dan Dahnil Wacanakan Jenazah Koruptor Tidak Perlu Dishalati)

”Hal ini perlu dilatih dan perlu model yang nyata. Langkah awal untuk membentuk pribadi berintegritas ini bisa dimulai dengan membuat resolusi pribadi yang dijalankan dengan penuh komitmen,” tegasnya.

Di sisi lain Dekan FH UMM Dr Sulardi SH MSi berharap, lewat kuliah umum ini mampu menamkan jiwa bersih dan antikorupsi pada peserta, yakni mahasiswa baru UMM. ”Semoga ketika mereka berkiprah di dunia kerja, mereka akan menjadi profesional yang berintegritas seperti yang dikatakan Pak Sujanarko,” ujar Sulardi. (hum/aan)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR