Tawa dan Tangis, Dua Wajah Pak Saad di Mimbar Muhammadiyah

Tawa dan Tangis, Dua Wajah Pak Saad di Mimbar Muhammadiyah

604
0
BAGIKAN
Dr M Saad Ibrahim MA (foto Ilmi)
Dr M Saad Ibrahim MA (foto Ilmi)

PWMU.CO – Tak kenal maka tak sayang, eh … tak paham. Peribahasa itu juga berlaku untuk M Saad Ibrahim. Jika tidak mengenali sosok Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim periode 2015-2020 ini secara dekat, maka bisa salah sangka.

Dari face-nya memang terlihat bahwa Pak Saad, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang serius. Sering terlihat tegang dan nyaris tanpa senyum. Tapi siapa sangka, bahwa pria kelahiran Mojokerto ini ternyata seorang humoris. Cobalah ikuti ceramah-ceramahnya, maka Anda akan dibuat gerr-gerran.

Pak Saad sering mengeluarkan joke atau cerita yang bikin ketawa hadirin. Dan uniknya, humor itu bahkan disampaikan dengan ekspresi wajah yang datar. Sama sekali tak menunjukkan bahwa ia sedang melucu.

Pada suatu kesempatan bersama Wakil Gubernur Jatim H Syaifullah Yusuf, dengan wajah serius Saad berkata, “Kalau boleh jujur, ketika duduk di samping Gus Ipul saya lebih pantas jadi gubernur.” Ucapan Saad itu langsung membuat hadirin terpingkal. Dan tepuk tangan pun bergemuruh. (Baca: Saat di Samping Gus Ipul, Saad Ibrahim: Saya Lebih Pantas Jadi Gubernur)

Begitu pula ketika ia me-launching portal berita Muhammadiyah Jatim pada Maret 2016 pun. Di tengah perhatian serius, Saad justru menyelipkan gurauan tingkat tinggi. Bayangkan, Saad mendokan pwmu.co agar masuk surga. “Dengan memohon kepada Allah Swt, supaya kemudian (hari), media ini bisa lebih baik, lebih baik, lebih baik. Dan kemudian bisa terbaik di dunia ini. Dan kemudian bisa bertahan sampai kiamat. Dan moga-moga, bahkan nanti sampai di surga pun, (media) ini masih ada.” Dan hadirin pun gerrrr. (Baca: Doa Situs On Line Masuk Surga)

Selain dikenal pandai melucu, Saad juga gampang terharu ketika berpidato. Matanya sering berkaca-kaca ketika ia berbicara sebuah sisi kemanusiaan. Pernah ia menangis ketika mendapati Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Ma’arif, yang, meskipun sudah berusia 80 tahun tapi masih sangat energik dan bersemangat dalam dakwah. “Di usia setua ini, Buya masih sanggup naik tangga ke lantai tiga dan berbicara dengan penuh semangat,” katanya, seperti dikutip wartawan pwmu.co.

Saad juga pernah tak kuasa membendung air mata ketika di sebuah forum ia bercerita soal gaji guru Muhammadiyah yang masih minim. “Sebagai guru dan kepala sekolah, gajinya hanya Rp 400 ribu. Istri lelaki ini juga mengajar di sekolah yang sama. Saya lalu mengira-ngira. Kalau gaji istrinya sebagai guru adalah Rp 300 ribu, berarti sebulan pendapatan keluarga ini hanya Rp 700 ribu,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. (Baca: Gaji Guru Muhammadiyah Rp 400 Ribu, Ketua PWM pun Menangis Haru)

Semoga dari dua tagisan itu, ada ribuan tawa! (M Nurfatoni)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR