Dimas Kanjeng dan Kejumudan Baru Masyarakat Modern

Dimas Kanjeng dan Kejumudan Baru Masyarakat Modern

1040
0
BAGIKAN
Dhimam Abror Djuraid
Dhimam Abror Djuraid

PWMU.CO – Belum reda heboh kasus Gatot Brajamusti sekarang muncul kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Media pun berebutan memberitakan besar-besaran dua berita itu. Inilah fenonema lama negeri kita yang selalu terpukau oleh hal-hal yang bersifat klenik dan mistis.

Sebelum terungkap ke media kita tidak tahu ternyata orang seperti Gatot Brajamusti punya sekian banyak pengikut setia yang rela melakukan apa saja yang diperintahkan Gatot. Praktik-praktik ritual, yang dalam standar orang normal menyimpang tidak masuk akal, dilakukan dengan penuh keyakinan oleh para pengikut Gatot.

Pun kita tidak banyak tahu bahwa di padepokan Taat Pribadi ada ratusan–atau mungkin ribuan–pengikut setia yang rela menuruti dan menjalankan apa yang diperintahkan Dimas Kanjeng, karena yakin akan kesaktiannya menggandakan uang.

(Baca: Orang Aneh dan Orang Pintar dalam Logika Sesat Karamah Penggandaan Uang)

Nalar kita tidak ketemu memikirkannya. Itulah yang oleh wartawan dan budayawan Mochtar Lubis disebut sebagai salah satu hal yang menjadi ciri manusia Indonesia; percaya takhayul, munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, lemah karakter, dan artistik. Di antara enam ciri itu hanya ciri terakhir yang positif, selebihnya memalukan.

Tentu, banyak yang tidak setuju terhadap pandangan Mochtar. Tapi, sudah 40 tahun lebih sejak mengemukakannya pada Pidato Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, 1977, pandangan itu masih banyak dikutip banyak orang.

Dan, setidaknya fenomena Dimas Kanjeng, mau tak mau, membuat kita harus merujuk kembali kepada pandangan Mochtar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pemercaya takhayul.

(Baca juga: Ciri Islam Berkemajuan Itu Membuka Pintu Ilmu Pengetahuan dari Berbagai Penjuru Dunia)

Beberapa tahun yang lalu muncul seorang lelaki renta bernama Subur yang disebut Eyang oleh para pengikutnya. Ia disebut punya kemampuan linuwih dan diyakini oleh banyak sekali pengikutnya. Praktik ritualnya dianggap menyimpang, terutama–seperti juga Gatot–ada ritual seks di situ.

Sebelum Gatot, ada seorang paranormal muda bernama Guntur Bumi yang beroperasi layaknya seorang kiai dan punya banyak pengikut. Seperti Gatot, Guntur juga punya banyak pengikut selebritas yang meyakini tuahnya. Petualangan mereka berakhir di penjara. Itu pula yang kelihatannya bakal dialami Gatot dan Dimas Kanjeng.

Akan berakhirkah episode klenik ini? Tidak. Pasti akan muncul tokoh-tokoh baru dengan modus baru dan dengan pengikut setia yang ratusan dan bahkan ribuan lagi. Tidak masuk nalar bagi akal sehat.

(Baca juga: Inilah Pidato Din Syamsuddin di Depan Paus Fransiscus dan Tokoh-Tokoh Agama Dunia di Italia)

Tapi, bagaimana kita bisa menjelaskan munculnya Marwah Daud Ibrahim yang menjadi pembela terdepan Dimas Kanjeng? Marwah, seorang doktor cemerlang lulusan Barat, menjadi pembela dan pengikut setia seseorang yang dituduh sebagai dukun pengganda uang.

Itu sama dengan para pengikut Lia Eden yang jumlahnya ribuan dan sangat fanatik. Mereka yakin Lia adalah titisan Jibril (atau entah apalah). Ketika berita mereka muncul ke permukaan mereka tiarap. Tapi, saat situasi kembali normal mereka kembali pada aktivitas lamanya. Baca sambungan di hal 2 …

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR