Gaji Guru Muhammadiyah Rp 400 Ribu, Ketua PWM pun Menangis Haru

Gaji Guru Muhammadiyah Rp 400 Ribu, Ketua PWM pun Menangis Haru

13046
0
BAGIKAN
Ketua PWM Jatim Saad Ibrahim.
Ketua PWM Jatim Saad Ibrahim.

PWMU.CO – Ketua PWM Saad Ibrahim tiba-tiba menangis. Dia tidak bisa menahan air mata ketika bercerita tentang seorang guru di perguruan Muhammadiyah yang bergaji kecil. Kejadian itu terjadi dalam acara konsolidasi organisasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur, hari ini (9/10).

Saad menceritakan, waktu berkunjung di Lamongan, dia secara kebetulan bertemu dengan seorang lelaki kurus kering. Perawakannya tampak tak terurus. Sama sekali tidak mencerminkan orang berpendidikan. “Saya ini juga kurus. Tapi lelaki yang saya temui ini lebih kurus,” kata saad di hadapan para tamu yang hadir di Aula Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ).

Namun siapa sangka. Ternyata dia adalah seorang sarjana pendidikan. Dia merupakan guru di salah satu madrasah ibtidaiyah Muhammadiyah yang sekaligus kepala sekolah. “Di benak saya mulai bertanya, kenapa orang yang berpendidikan seperti dia, kok tidak terawat?” tuturnya.

(Baca: Ketua Forum Guru Muhammadiyah, Pahri: Sempat Ditentang Keluarga Ketika akan Kuliah di Universitas Muhammadiyah)

Karena penasaran, Saad pun bertanya berapa gaji yang lelaki itu terima. Dan, ketika mendengar jawabannya, Saad pun langsung tersentuh.

“Sebagai guru dan kepala sekolah, gajinya hanya Rp 400 ribu. Istri lelaki ini juga mengajar di sekolah yang sama. Saya lalu mengira-ngira. Kalau gaji istrinya sebagai guru adalah Rp 300 ribu, berarti sebulan pendapatan keluarga ini hanya Rp 700 ribu,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Saad melanjutkan, suatu ketika sekolah tempat lelaki ini mengajar mendapat bantuan dari kementerian agama sebesar Rp 100 juta. Uang itu kemudian dibuat untuk membangun tiga ruang kelas. Saad pun heran, apakah uang sejumlah itu cukup untuk membangun tiga ruang kelas?

(Baca: Inilah SMK Muhammadiyah yang Siswanya Diburu Dunia Kerja Sebelum Lulus)

“Ternyata untuk menghemat biaya, pembangunan tersebut dilakukan secara gotong royong. Seluruh warga Muhammadiyah di sekitar sekolah itu turut membantu pembangunannya,” cerita Saad dengan terbata-bata karena rasa haru. Bahkan, ia sempat berhenti sejenak karena tak kuasa menahan air mata.

Menurut Saad, lelaki ini adalah pejuang Muhammadiyah sesungguhnya. “Dalam barisan jihad fi sabilillah Muhammadiyah, dia pantas berada di barisan paling depan Muhammadiyah,” pungkasnya. (ilmi)   

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR