Bubarkan, Pengajian yang Tak Lahirkan Gerakan Kepedulian Sosial

Bubarkan, Pengajian yang Tak Lahirkan Gerakan Kepedulian Sosial

1537
0
BAGIKAN
Jamah wanita yang memadati pengajian di UMP (foto istimewa)
Jamah wanita yang memadati pengajian di UMP (foto istimewa)

PWMU.CO – Dalam beragama, umat Islam tidak cukup hanya shaleh secara ritual dan rajin mengikuti pengajian. Tetapi, lebih dari itu, harus diimbangi dengan kepedulian sosial. Itulah substansi Alquran Surat Al-Ma’un.

Pesan itu disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Nadjib Hamid di Ponorogo, Ahad (25/9) lalu. Di hadapan 3000 jamaah yang memadati halaman Masjid Al Manar, Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMP), Nadjib meminta agar pengajian ini tidak hanya berhenti pada pengajian. Tapi harus pula diikuti tindakan nyata.

(Baca: Untuk Apa Saldo Kas Masjid Ratusan Juta jika Jamaahnya Melarat dan Ketika Ketimpangan Sosial Terjadi di Kawasan Elit-Alit, Ini Aksi Nyata yang Dilakukan Muhammadiyah)

“Kalau pengajian yang sudah berusia lebih dari seperempat abad ini tidak melahirkan gerakan kepedulian sosial dari jamaahnya, sebaiknya dibubarkan saja pengajiannya!” seru Nadjib bernada provokatif. “Jika tidak mau dibubarkan, ya mari kita menciptakan sejarah baru, mencontoh KH Ahmad Dahlan seabad yang lalu,” ajaknya.

Nadjib menjelaskan, banyak persoalan yang sedang dihadapi umat Islam, termasuk yang berkaitan dengan kesenjangan ekonomi. “Persoalan lemahnya ekonomi umat ini rawan dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain, termasuk oleh para rentenir dan para missionaris.” Oleh karena itu, Nadjib berharap bahwa pengajian-pengajian yang diadakan umat Islam, termasuk di kalangan Muhammadiyah, harus berdaya gerak.

(Baca juga: Menjadi Ujung Tombak Persyarikatan, Ranting Harus Menggairahkan dan Masjid Harus Sediakan Wifi, Buku, dan Kopi agar Lebih Menarik dari Warkop)

Jamaah laki-laki yang memenuhi pengajian di UMP (foto istimewa)
Jamaah laki-laki yang memenuhi pengajian di UMP (foto istimewa)

Mendengar provokasi tersebut, Muslich, salah seorang jamaah yang duduk di kursi baris depan, langsung mengambil mikropon. Dengan lantang ia memandu jamaah lainnya untuk menyepakati lahirnya gerakan yang dimaksud Nadjib. Ia pun berhasil menujuk Muhadji, jamaah lainnya, untuk menjadi koordinator dengan pertimbangan pengalamannya menggalang dana sosial di lingkungan tempat tinggalnya.

Tak pelak, suasana pengajian berlangsung layaknya arena kampanye yang gegap gempita dan menyegarkan. Para jamaah yang biasanya langsung pulang usai pengajian, tetap enjoy berlama-lama membicarakan topik yang baru dikaji.

“Program tersebut sebenarnya sudah lama direncanakan, tapi karena tidak ada yang memprovokasi sehingga belum bisa dimulai. Nah, setelah ini insyaallah jalan,” komentar Sulthon, Rektor UMP yang langsung diamini Ust Zainun Shofwan, Wakil Ketua PDM Ponorogo.(Humaidah)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR