Kesyahduan Shalat di Bangunan Masjid yang Lebih Kecil dari Mushalla: Catatan Ringan...

Kesyahduan Shalat di Bangunan Masjid yang Lebih Kecil dari Mushalla: Catatan Ringan dari Negeri Samsung

730
0
BAGIKAN
Sambutan hangat Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light  saat menyambut rombongan Universitas Muhammadiyah Malang di Bandara (foto: doc)
Sambutan hangat Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light saat menyambut rombongan Universitas Muhammadiyah Malang di Bandara (foto: doc)

PWMU.CO – Mungkin sekitar 3 bulan yang lalu, aku hanya membayangkan melakukan aktivitas sakral di sebuah tempat yang memiliki perbedaan waktu 2 jam lebih cepat dari Indonesia. Seumpama di Indonesia jam 07.00, maka tempat yang kubayangkan itu sudah jam 09.00.

Apa istimewanya melakukan shalat, aktivitas sakral itu,  di sebuah masjid atau yang lebih kecil darinya, mushalla atau langgar misalnya? Bukankan sebagai seorang muslim melaksanakan shalat merupakan hal yang biasa? Sekedar shalat, bisa dibilang merupakan hal yang biasa. Tetapi kalau dilaksanakan di sebuah tempat yang unik karena alasan tertentu,  shalat yang pada mulanya biasa, lalu berubah menjadi sesuatu yang luar biasa.

Maka shalat di Masjidil Haram atau di Masjid Nabawi, misalnya,  merupakan sesuatu yang luar biasa. Bukan karena jarak yang bagi muslim Indonesia harus ditempuh dalam waktu sekitar 10 jam dan dengan biaya yang lumayan tinggi. Kedua masjid itu memiliki banyak keistimewaan bagi muslim di Indonesia.

(Baca juga: Ka’bah dan Doa Aneh Umar bin Khattab dan Alphard, Mobilitas Dakwah, dan Muhammadiyah Madura)

Tempat yang kubayangkan itu bukan di Mekah atau Madinah, tetapi di sebuah tempat dimana Islam merupakan agama minoritas. Seorang kawanku tak bisa menahan isak tangisnya  setelah melaksanakan shalat di sebuah masjid di Melbourne. Di kota yang menurutku paling indah itu  jika dibandingkan Sydney, Adelaide, Canberra, Islam merupakan agama minoritas. Tidak semudah menemukan masjid di Indonesia yang bahkan hanya dipisahkan jalan selitar 5 meter, kita dengan begitu gampangnya  menemukan masjid yang saling berhadapan.

Isak tangis temanku di masjid kecil di Melbourne itu adalah perwujudan keharuan karena pada akhirnya bisa menjangkau masjid yang tidak semudah di Indonesia. Aku membayangkan shalat di sebuah masjid yang ditayangkan oleh mahasiswaku ketika menyajikan rencana riset yang harus dilakukan untuk mendapatkan gelar doktor di bidang Pendidikan Agama Islam.

Apa yang kubayangkan itu adalah afirmasi. Sebagaimana yang kukatakan bahwa dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan, maka betapa berbahagianya diriku karena kemarin, aku betul-betul berada di sebuah masjid yang diceritakan oleh mahasiswaku dari Korea Selatan, tiga bulan yang lalu. Cobalah lacak di ensiklopedia daring dengan menggunakan entri Religion in Korea,  jangan kaget jika Islam tidak disebut bahkan dalam sub judul New Religions sekalipun. Hal ini menunjukkan Islam sepertinya kurang begitu diperhitungkan katakanlah seperti di Barat yang justru menimbulkan efek Islamophobia menyusul perkembangan Islam yang lumayan dinamis.

(Baca juga: Sepasang Kuli Bangunan Umrah Bersama dan Ketika Profesor Harus Mengajar Siswa SD)

Dari sisi agama, kebanyakan orang Korea lebih memilih  Budha dan Kristen. Penduduk Korea Selatan berjumlah sekitar 50,8 juta jiwa. Sekitar 30 % beragama Budha, sedangkan Kristen dipeluk sekitar 25% dari total penduduk Korea Selatan. Bagaimana dengan jumlah pemeluk Islam? Ini yang menarik. Wikipedia bukan sejedar menyebut Islam sebagai  minority, tetapi “very small minority”.  Penggambaran semacam ini bisa dimaklumi karena Islam, masih menurut Wikipedia, dipeluk oleh sekitar 120.000-130.000 orang.

Pada umumnya muslim di Korea Selatan adalah kaum imigran. Hanya sebagian kecil orang Korea Selatan  yang tertarik pada Islam, mungkin sekitar 40.000 orang. Jadi memang tidak begitu signifikan jika dibandingkan dengan total penduduk Korea Selatan yang berjumlah 50, 8 juta. Merasakan sebagai minoritas, bahkan sebagai minoritas yang kecil sebagaimana penggambaran Wikipedia tentang Islam di Korea Selatan. Suasana kebatinan inilah yang pertama kali muncul ketika pada akhirnya aku betul-betu shalat maghrib dan isya yang dilakukan secara jamak takdim dan qashar di dalam masjid yang  tiga bulan yang baru pada tahapan afirmasi.

(Baca juga: Kopi Hitam dan Nilai Kebajikan Madura dan Buku dan Etos Penulisnya: Catatan Kekaguman Seorang Profesor pada Penulis Buku yang Fokus Berkarya)

Aku teringat Lena Larsen, perempuan muslim dari Norway yang hampir setiap tahun datang ke Malang sejak 2009. Lena Larsen terlihat begitu menikmati kumandang adzan Maghrib yang berasal dari berbagai masjid di sekitar UMM Inn. Kumandang adzan dengan nada nyaring merupakan fenomena langka di negara asalnya.

Sebagaimana pengalamanku sendiri, tiga kali ke Oslo, ibu kota Norway, aku sama sekali tidak mendengar suara adzan, kecuali kalau tinggal di Gronland  yang dihuni oleh sebagian besar muslim di Oslo. Tetapi meskipun tinggal di Gronland, jangan pernah berharap pula kumandang adzan bisa terdengar nyaring lazimnya di tanah air. Adzan terdengar samar-samar di luar masjid. Fenomena pada Islam sebagai minoritas selalu seperti itu.

Jangkauan kumandang adzan Maghrib di masjid yang dikenal dengan Masjid Pusat Seoul atau Seoul Central Mosque hanya sampai di pelataran. Fenomena lainnya, sulit menjumpai penduduk asli yang datang ke masjid. Di dalam masjid, selain pandanganku tertuju pada ornamen yang menyerupai masjid di Iran, aku sebenarnya sedang mendeteksi jamaah dengan postur dan wajah yang dengan seketika bisa dicandera sebagai orang Korea Selatan asli, bukan pendatang. Sekedar satu pun tidak mendapatkannya. Sebagian berwajah Turki. Sebagian lainnya tampak sebagai orang Melayu. Ada lagi yang berasal dari Bosnia. Basis sosial Islam minoritas memang selalu didominasi oleh kaum imigran.

(Baca juga: Jum’atan dengan 3 Kali Khutbah. Sisi Unik Umat Islam di Utah, Amerika dan Khatib Jumat yang Ber-HP dan Lempar Humor)

Dimana-mana selalu tampak  begitu. Kalau ingin disebut ciri lainnya,  bisa ditambahkan deskripsi lokasi komunitas muslim beserta masjidnya yang berada agak jauh dari pusat kota. Lokasi Masjid Pusat Seoul juga seperti itu, meskipun jika ditempuh dengan taxi hanya membutuhkan waktu antara 15-20 menit dengan titik keberangkatan dari Gangnam, salah satu wilayah teramai di kota Seoul. Karena agak pinggir,  karakteristik  jalan lebih-lebih yang kian mendekat ke masjid yang terletak di Itaewon, Hannam-dong, Yongsan-gu itu, semakin menyempit dengan jarak antara sisi kiri dan kanan yang menyerupai jalan perkampungan di tanah air.  Lokasi ini adalah lokasi masjid satu-satunya di Seoul. Selanjutnya halaman 2…

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR