Buku dan Etos Penulisnya: Catatan Kekaguman Seorang Profesor pada Penulis Buku yang...

Buku dan Etos Penulisnya: Catatan Kekaguman Seorang Profesor pada Penulis Buku yang Fokus Berkarya

618
0
BAGIKAN
Dua buku yang ditulis secara fokus oleh penulisnya dalam waktu puluhan tahun (Foto ilustrasi)
Dua buku yang ditulis secara fokus oleh penulisnya dalam waktu puluhan tahun (Foto ilustrasi)

PWMU.CO – Sebentar saja aku membaca buku bertajuk The Fall of the Ottomans: The Great War in the Middle East, di toko buku yang terletak di Taksim Square, Istanbul, Turki, sekitar enam bulan yang lalu. Begitu tahu harganya yang mencapai kira-kira Rp 400 ribu, aku tidak jadi membelinya. Berbeda dengan buku Sapiens: A Brief History of Humankind, masih di toko yang sama. Membolak-balik sebentar, aku segera beranjak ke kasir.

Buku yang ditulis Yuval Noah Harari ini, dibandingkan dengan buku The Fall of the Ottomans, tidak terlalu mahal. Di  sampul belakang bagian bawah tertulis harga £9.99. Turki memang negara dengan dua wajah: Asia dan Eropa. Aku sering menjumpai barang-barang yang dijual di tempat-tempat perbelanjaan terutama di Istanbul, ditulis dengan simbol mata uang Euro.

(Baca: Kabah dan Doa Aneh Umar bin Khattab dan Aku Katanya Turun Gunung)

Di Turki, aku hanya membeli dua buku. Pertama, buku Sapiens itu, yang sebenarnya sudah kutaksir sejak aku tiba di Bandar Udara Internasional Ataturk, Istanbul. Kedua, buku The Mathnawi yang ditulis oleh Jalaluddin Rumi. Aku membeli buku ini di Konya. Di kota inilah Jalaluddin Rumi dikebumikan. Hanya dua buku itu yang kubawa dari Turki.

Ini berbanding terbalik dengan perjalananku ke India yang bisa belanja buku dalam jumlah yang lumayan banyak yang setara dengan 60 kg. Alasan utamanya tentu harga.

Ahad sore, dua hari yang lalu,  tujuan utamanya memang bukan ke Toko Buku Gramedia. Tetapi kalau sudah memasuki Malang Town Square (Matos), selalu ada hasrat ingin mendatangi Gramedia. Tujuan utamanya sebenarnya ingin makan bersama dengan keluarga. Tetapi karena bedug maghrib sebagai pertanda Puasa Arafah usai masih setengah jam lagi, aku mampir dulu ke Gramedia, sedangkan isteri dan anak-anaku menunggu di kedai makan yang terletak di lantai tiga.

(Baca juga: Kopi Hitam dan Nilai Kebajikan Madura dan Alphard, Mobilitas Dakwah, dan Muhammadiyah Madura)

Mendapati buku The Fall of the Ottomans yang beralih bahasa menjadi The Fall of The Khilafah: Perang Besar yang Meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah dan Mengubah Selamanya Wajah Timur Tengah, aku tidak perlu berpikir panjang seperti pengalamanku di Turki enam bulan yang lalu. Buku yang diterbitkan oleh Serambi–salah satu penerbit terkemuka di Tanah Air–dibandrol hanya Rp 140 ribu. Tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan versi aslinya.

The Fall of The Ottomans adalah buku sejarah. Aku menyukai buku sejarah. Entah sudah berapa banyak buku bergenre sejarah yang kumiliki. Aku sengaja melayani hasratku pada buku-buku sejarah, pertama, karena aku merasa memiliki hutang intelektual pada sejarah. Pengalaman pendidikanku di masa lalu, kurang banyak bersentuhan dengan sejarah. Aku ingin membayarnya dengan mengoleksi buku-buku bergenre sejarah. Lalu alasan yang kedua, aku terpikat pada etos penulisnya.

Mungkin di antara kita ada yang pernah membaca buku, A Study of History, yang ditulis oleh Arnold Toynbee, sejarawan abad ke-20. Kita yang lebih akrab dengan bahasa nasional kita, Indonesia, seharusnya bergembira karena versi terjemahan buku tersebut sudah tersedia sejak Maret yang lalu.

(Baca juga: Wakil Rektor UMM Resmi Dilantik dan Formasi Lengkap PWM Jatim 2015-2020)

Yang kukagumi dari para ilmuwan luar negeri,  utamanya dari Barat adalah fokus, keterbukaan, ketekunan dan dedikasinya terhadap ilmu yang dipelajari dan pada akhirnya ditekuninya. Aku sengaja menghindari pembahasan yang lumayan “njlimet” tentang fokus sebagaimana ditulis Daniel Goleman dalam bukunya Focus: The Hidden Driver of Excellence.

Diawali dengan contoh menarik dari seorang detektif perusahaan, John Berger,  yang tidak pernah kehilangan perhatian sekejap pun terhadap pengunjung toko ritel di Upper East Side, yang menyediakan barang “branded” semacam Prada. Teledor sedikit, berarti bencana karena barang yang menjadi buruan kaum “the have” itu bisa berpindah tangan tanpa proses transaksi yang normal.

Jonh Berger, menurut Daniel Goleman, merupakan contoh orang yang bisa memelihara fokus dengan baik. Dari contoh tersebut, Daniel Goleman bergerak secara sistematis pada pembahasan yang lebih saintifik tentang fokus.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR