Blantik Sapi Kurban Itu Ternyata Pengawas SMA Berprestasi Nasional

Blantik Sapi Kurban Itu Ternyata Pengawas SMA Berprestasi Nasional

2888
1
BAGIKAN
Mustakim saat melakoni profesi sebagai blantik sapi musiman (foto dok pribadi)
Mustakim saat melakoni profesi sebagai blantik sapi musiman (foto dok pribadi)

PWMU.CO – Di hari libur menjelang Idul Adha 1437, pria berkulit putih, berpeci laken ala blantik itu, sibuk meladeni para pembeli hewan kurban. Bukan seperti blantik tradisional yang bertraksaksi di lokasi hewan, ia cukup menjawab telepon atau pesan singkat melalui smartphone saat melayani pelanggan.

“Pelanggan kami banyak yang jauh tempatnya. Bahkan sampai Sidoarjo. Jadi kami cukup bertransaksi dengan gawai ini,” ujar Mustakim, saat ditemui pwmu.co, Sabtu (10/9). Ia mengaku, satu orang atau lembaga bisa pesan sampai puluhan sapi. “Jadi cepat habis sapinya.”

(Baca: Dua Guru Muhammadiyah Jatim Raih Juara Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat Nasional 2016 dan Inilah 8 Gelar Juara Nasional yang Disabet oleh Tenaga Kependidikan, Guru, dan Sekolah Muhammadiyah)

Dua hari menjelang Idul Adha, 70-an sapinya ludes terjual. Dan satu hari menjelang hari-H ia sibuk mengatur proses pengiriman. Untuk menjaga kepuasan pelanggan, ia memandikan semua sapi sebelum dikirim. Itu juga yang membuat bisnis musiman yang dilakoninya sejak 2010 sukses. “Di samping kepercayaan, modal bisnis sukses adalah kepuasan pelanggan,” ujarnya berfilosofi bisnis.

Tapi siapa yang menyangka jika blantik (pedagang) sapi hewan kurban ini adalah seorang pengawas sekolah dan guru berprestasi nasional? Ya … Mustakim SS MSi sehari-hari adalah PNS yang menjadi Pengawas Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

(Baca juga: Pesan Idul Kurban Ketua PW Muhammadiyah Jatim: Perjuangan dan Pengorbanan Umat Islam Masih Panjang) dan Dewan Pertimbangan Presiden: Idul Adha Kuatkan Rasa Keislaman)

Pada Agustus 2016, ia dinobatkan sebagai Juara II Pengawas Sekolah SMA Berprestasi Tingkat Nasional. Mustakim yang mewakili Jawa Timur terpilih menjadi Juara II setelah bersaing dengan 29 peserta Pemilihan Pengawas Sekolah SMA Berprestasi. Mendikbud Muhadjir Effendy langsung menyerahkan hadiah sebesar Rp 25 juta.

Mustakim saat menerima penghargaan dari Mendikbud Muhadjir Effendy sebagai pengawas prestasi nasional
Mustakim saat menerima penghargaan dari Mendikbud Muhadjir Effendy sebagai pengawas sekolah SMA berprestasi tingkat nasional (foto dok pribadi)

Prestasi itu adalah penghargaan tingkat nasional ke-15 atau penghargaan ke-49 untuk tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Sebelumnya, di era Mendikbud Anies Baswedan, Mustakim juga menjadi satu dari 22 penerima Anugerah Peduli Pendidikan (APP) 2015. Ia diganjar anugerah APP 2105 lewat kreativitasnya dalam membuat alat ajar video untuk sejarah lokal. Dengan alat itu Mustakim berharap bahwa belajar sejarah menjadi lebih menarik dan tidak membosankan.

(Baca juga: Inilah Gerak Cepat Majelis Dikdasmen untuk Keunggulan Sekolah Muhammadiyah Gresik dan Sekretaris Muhammadiyah Gresik Raih Gelar Doktor)

Maklum, selain menjadi Pengawas, Mutakim juga seorang guru. Ia mengajar di SMA Muhammadiyah 1 Gresik. Di sekolah itulah ia mengajar sejarah, bidang studi yang ia geluti saat menjadi mahasiswa sejarah di UGM.

Di Persyarikatan Muhammadiyah, ‘prestasi’ Mustakim juga moncer. Pada periode 2015-2020, ia terpilih menjadi salah satu Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik. Dari 13 anggota PDM, Mustakim termasuk pimpinan yang termuda.

Segudang prestasi dan profesi prestisius yang diembannya tak membuat pria asli Lamongan ini malu menjadi blantik sapi, meskipun hanya musiman.

(Baca juga: Hikmah Idul Adha: Bangsa Ini Perlu Belajar Etika Demokrasi pada Nabi Ibrahim dan Hanya Bisa Dilalui Perahu dan Jalan Setapak, Begini Perjalanan Laskar Al-Ma’un Bagikan Kurban)

“Kenapa harus malu? Selain halal, profesi blantik ini juga menguntungkan. Meskipun tidak banyak tetapi ajeg (ruitn), ” tuturnya. Mustakim mengaku dalam satu musim Idul Adha ia mendapat keuntungan yang lumayan, meski ia tak mau menyebutkan angka. Tapi dengan harga rata-rata Rp 20 juta per ekor, maka bisa dihitung jika ia mampu menjual 70 sapi, berarti omset mencapai Rp 1,4 M. Untuk menjalankan bisnis bermodal besar itu ia joint dengan teman-temannya.

Meski begitu, Mustakim tetap menjaga komitmennya sebagai PNS. Ia tidak berharap bisnis musimannya menganggu pengabdiannya sebagai seorang pegawai negeri. Oleh karena itu Mustakim mempercayakan pengelolaan pada saudaranya yang ada di Desa Pelangwot, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, tempat bisnis itu dijalankan. “Kami hanya memantau dan membantu di saat-saat senggang dari urusan kantor dan sekolah,” ucapnya.

Ah … jika ada pemilihan blantik berprestasi nasional, Mustakim sepertinya layak menjadi pemenang. (Nurfatoni)

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR