Gerakan Subuh Berjamaah, Waketum MUI Jelaskan Kemunculan Islam Normatif dan Islam Sejarah

Gerakan Subuh Berjamaah, Waketum MUI Jelaskan Kemunculan Islam Normatif dan Islam Sejarah

2037
1
BAGIKAN
yunahar
Prof Yunahar Ilyas memberi kuliah subuh.

PWMU.CO – Dengan khusyuk ratusan jamaah menjalankan shalat subuh berjamaah di Masjid Jenderal Sudirman, Kamis (8/9) kemarin. Itu sebagai bagian dari ‘Gerakan Shalat Subuh Berjamaah’ yang dicanangkan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng, Kota Surabaya. Dalam kesempatan yang sama, hadir Prof Yunahar Ilyas untuk memberi kuliah subuh.

Ketua PP Muhammadiyah memulai tausyiyah dengan membaca Quran Surat Al-Hujurat Ayat 7. Yunahar lantas membacakan artinya “Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”.

(Baca: Adakah Tuntunan Puasa Tarwiyah sebelum Idul Adha, 8 Dzulhijjah? dan Uji Keshahihan Hadits tentang Keutamaan Puasa Awal Dzulhijjah)

Lebih lanjut Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengungkapkan, Islam dibagi menjadi dua, yakni Islam normatif dan Islam historis. Menurut Yunahar Islam normatif adalah Islam yang sesuai dengan Al-qur`an dan Sunnah Rasulullah Saw. Sedangkan Islam historis merupakan Islam yang dilaksanakan. ”Pada zaman Rasulullah Saw tidak ada perbedaan antara Islam normatif maupun Islam historis. Baru di zaman sahabat dan  tabi’in mulai muncul sedikit perbedaan,” ujarnya.

Yunahar menambahkan, baru setelah 14 abad muncul perbedaan yang cukup signifikan. Bahkan ada jarak dan jurang yang begitu dalam antara Islam normatif dan Islam historis. ”Sejatinya Islam mengajarkan persatuan. Namun yang terjadi sebaliknya malah perpecahan. Islam juga mengajarkan kebersihan. Namun kebersihan malah jadi budaya di negeri non muslim,” paparnya.

(Baca: Jangan Pertentangkan Islam Ramah dengan Islam Marah dan Inilah Empat Syarat Dakwah yang Ramah)

Menurut Yunahar ada dua hal yang harus dilakukan umat Islam untuk meluruskan itu. Pertama, mengembalikan ajaran Islam dengan memperbaiki dan meluruskannya sesuai dengan Alqur`an dan Sunnah Nabi. Kemudian yang kedua adalah melakukan reinterpretasi ajaran Islam. ”Yang perlu dipahami adalah jalur reinterpretasi itu hanya khusus untuk masalah mu’amalah. Seperti cara berpakaian, cara makan, dan lainya,” tegasnya.

Di akhir sesi Yunahar menrangkan tiga sisi dalam diri Rasulullah. Pertama adalah basyar atau sisi manusia. Kedua Araby, yaitu sisi orang Arab. Dan ketiga adalah sebagai seorang Rasul. ”Yang bisa dicontoh dari Nabi Muhammad adalah beliau sebagai Rasul. Artinya kita harus mentaati Rasulullah, agar kehidupan umat Islam menjadi lebih baik,” pungkasnya.(aad/aan)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR